Pages

Friday, September 16, 2016

09: Saya Rindu New York


Saya tidak setampan Rangga atau secantik Cinta, tetapi saya cukup memahami mengapa melihat purnama di New York itu jauh lebih romantis ketimbang melihat purnama di Kebon Kacang. Kalau ada sebuah pertanyaan, "Kota apa yang lo banget sih, Ga?" maka saya memilih untuk menjawab, "New York!" 

Keriuhan yang dirindukan
New York di dalam segala kemegahan gedung-gedungnya adalah salah satu kota di dunia yang tak boleh dilewatkan untuk dikunjungi. Kita akan dibuat terpesona saat menyebrang jalan dan mengetahui bahwa kita sedang terhimpit oleh gedung-gedung pencakar langit yang lantainya tak hanya 20 tetapi bisa 40 atau bahkan 50 lantai. Belum lagi saat momen menjelang matahari tenggelam, saat sinar matahari berpendar-pendar dan berusaha menyelinap di sela-sela gedung-gedung penggapai langit New York. 


Kota ini terlalu riuh tetapi juga di sisi lain, sudut-sudutnya terlalu romantis untuk dilewatkan. Menggenggam paper cup berisikan kopi dari La Colombe Torrefaction, sebuah kafe minum kopi hipster di kawasan SOHO, New York, sembari berjalan-jalan menikmati suasana, bagi saya, adalah hal yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Memandangi puluhan orang dari berbagai belahan dunia lalu-lalang di jalan-jalan utama big apple ini adalah suatu keindahan tersendiri. Suatu keriuhan yang dirindukan.  

New York bukan hanya sekadar menjadi surga belanja tetapi ada banyak kisah cinta yang terukir di sana. Lebih dari sekadar kisah Cinta mengejar Rangga atau Rangga yang merindukan Cinta, Perjalanan lebih dari 24 jam dari Jakarta membuat kita berpikir bahwa dunia ini begitu luas untuk dijelajahi dan pun demikian, pikiran dan rasa rindu kita pun dapat sedemikian mudahnya terlontar ke Indonesia. Sangat mudah untuk menjadi melankolis di tempat ini karena rasa kangen yang menilisik kalbu begitu kita mengunjungi American Museum of Natural History atau Central Park.

Romantisme Brooklyn Bridge
Kekaguman akan kota yang dengan gampangnya mengukir kenangan ini pun dapat mencapai puncaknya saat memandangi New York dari Brooklyn Bridge. Jembatan yang setiap hari dilalui oleh ribuan orang untuk menyebrang dari Brooklyn ke New York. Terkadang, ada momen-momen yang terlalu romantis sampai kita lupa mengabadikannya dan ini pun bisa terjadi di jembatan ini. Terbuai akan suasana sampai lupa mengambil gambar atau meng-update status adalah suatu pertanda baik bahwa kita menikmati perjalanan sebagaimana adanya. 

Bagian terbaik perjalanan saya adalah ketika saya menaiki Uber dari apartemen yang saya sewa di kawasan Brooklyn ke Manhattan saat malam pertama saya di New York. Melihat cahaya kota New York dari kejauhan membuat saya teringat sebuah lirik lagu Jay-Z yang bunyinya, "In New York, concrete jungle where dreams are made of! There's nothing you'cant do. Now you're in New York, these streets will make you feel brand new, big lights will inspire you." Saya pun tersenyum manis, sendirian di dalam Uber, menyadari bahwa kota ini begitu ajaibnya dan ini adalah salah satu perjalanan terbaik saya sepanjang saya berpergian. 

Tanpa Ambisi
Melangkah di New York haruslah tanpa ambisi ingin ke banyak tempat dalam satu hari. Mengenali kemampuan diri sendiri di dalam menjelajah bagian dari kota ini sangat penting adanya. Bagi saya, duduk-duduk di kafe sambil melatih kemampuan bahasa Inggris dengan mendengarkan percakapan orang di sekitar saya sudah cukup membahagiakan. Datang hanya ke satu atau dua museum di dalam satu hari juga merupakan aktivitas yang masih wajar. Belanja? Ini bukan kegiatan favorit saya dan justru saya memilih belanja di hari terakhir ketika berada di New York, mencegah kalau bagasi saya tidak overweight

New York sukses membuat saya mengukir kenangan tersendiri dan sampai sekarang, saya masih ingat betapa berharganya kenangan berjalan-jalan di New York. Sama seperti Cinta yang merindukan Rangga maka mungkin seperti itulah juga saya merindukan New York. 

Selamat menjelang akhir pekan! 

Wednesday, September 14, 2016

09: Dengan Senang Hati


Saya biasanya naik cattle class ketika berpergian menggunakan pesawat, alias memilih untuk membeli tiket kelas ekonomi atau malah super ekonomi untuk rute-rute tertentu. Berpergian dengan menggunakan kelas bisnis tidak pernah masuk ke dalam rencana keuangan saya ketika saya berjalan-jalan. Namun, saya berprinsip bahwa satu kali di dalam seumur hidup, saya harus mencoba berpergian dengan kelas bisnis Garuda Indonesia yang di dalam beberapa tahun belakangan ini melakukan pembenahan mati-matian terhadap pelayanannya sampai mendapatkan predikat maskapai bintang lima dan awak kabin terbaik dunia versi Skytrax. 

Belajar Lebih Banyak 
Pengalaman yang saya rasakan memang lumayan mahal dan kita harus merogoh kocek dua kali lipat dari harga tiket biasa untuk penerbangan Jakarta ke Bali menggunakan pesawat Garuda Indonesia terbaru tipe 777 dan A330. Karena di sini saya membeli pengalaman dan sensasi naik kelas bisnis maka saya legowo-legowo saja. Penerbangan 1 jam 25 menit pun menjadi lebih bermakna dan justru membuat saya banyak belajar tentang client service.

Saya tersenyum ketika pramugari memanggil saya bukan hanya sekadar dengan sebutan "Bapak" atau "Mas" melainkan "Bapak Aga" atau "Mas Aga", mereka memanggil nama dan ini dimulai ketika saya duduk di dalam pesawat. Saya yang sehari-hari bekerja di industri jasa yang mana kepuasan pelanggan adalah nomor satu mendadak berpikir sendiri tentang pentingnya pendekatan semacam ini. 

Berapa banyak sih dari kita yang memanggil orang lain hanya dengan sebutan umum seperti "Mas", "Bapak", "Ibu" atau "Mbak" tanpa ada keinginan untuk mengakrabkan diri dengan memanggil nama, menunjukkan bahwa kita ingin mendekatkan diri kepada orang tersebut atau klien yang kita temui setiap hari. Mencoba menjadi lebih ramah dan mencoba menjalin komunikasi yang lebih ramah kepada rekan sekerja atau klien, misalnya. Keramahtamahan seperti ini yang rasanya mulai hilang di dalam kehidupan sehari-hari dan saya lupa bahwa saya bekerja di bidang usaha jasa untuk membuat orang lain bahagia serta senang dengan apa yang kita lakukan.
 

Dengan Senang Hati
Berapa banyak dari kita yang membalas ucapan "Terima kasih ya!" dengan sahutan, "Dengan senang hati?" Beberapa dari kita mungkin hanya membalasnya dengan sahutan, "Sama-sama!" atau bahkan tidak dibalas sama sekali karena ada perasaan kesal di sana. Penggunaan kalimat "Dengan senang hati!" bagi saya adalah suatu hal yang mengesankan. 

Senang hati, frasa ini mengandung arti yang dalam karena dengan mengucapkan frasa ini maka saya pun harus memastikan bahwa pertolongan yang saya berikan kepada orang yang bersangkutan haruslah dilakukan tanpa beban dan justru lebih dari itu, saya dengan senang hati melakukannya. Berapa banyak sih dari kita yang cenderung memikirkan rasa senang hati diri orang lain dibandingkan diri sendiri?

Pengalaman terbang dengan Garuda Indonesia ini bagi saya justru lebih dari sekadar terbang dengan kelas bisnis tetapi ada pekerjaan rumah yang harus saya lakukan dengan pekerjaan saya sehari-hari, membuat diri saya lebih senang hati ketika diminta tolong oleh orang lain di dalam dunia nyata.

Selamat hari Rabu! 

Sunday, September 11, 2016

09: Mau Lo Apa?


"Ga, gue bagi dong itinerary punya lo! Kayaknya lo ke tempat yang seru-seru gitu!"

Pertanyaan yang diajukan kepada saya itu tidak hanya sekali tetapi beberapa kali dan diminta juga menyebutkan harga perjalanan dan segala rupa-rupa informasi berhubungan dengan perjalanan saya. 

Sebagai seorang flashpacker, sejujurnya saya payah sekali untuk urusan budget alias saya tidak merencanakan budget saya dengan jelas kecuali menempatkan ambang batas untuk urusan tiket pesawat dan hotel. Namun, untuk urusan makan dimana, ngopi dimana, nongkrong dimana dan melihat apa saja, ambang batas saya untuk keuangan itu lumayan jauh jaraknya. 

Bagi saya, suatu perjalanan itu sifatnya personal dan saya tidak bisa serta-merta melakukan cut and paste rencana perjalanan orang lain, itu sama saja saya meminjam hidup orang lain kemudian menghidupinya. Namun, merupakan hal-hal yang sah apabila kita mencoba untuk membandingkan atau menanyakan referensi tempat-tempat menarik apa saja yang dikunjungi ketika berjalan-jalan. 

Sebelum menentukan destinasi, memesan tiket pesawat atau kamar hotel, saya rasa ada beberapa prinsip yang patut ditanyakan ketika kita memulai suatu perjalanan dan membuat suatu rencana perjalanan. 

#1 MAU LO APA?
Traveling is about finding yourself. Kita sering sekali mendengarkan atau membaca kalimat ini dan apalagi semenjak jalan-jalan ada suatu tren dan usaha bisnis baru. Gaung "Ayo jalan-jalan!" sudah menjadi bagian dari keseharian kita dan mencari tiket murah bukan lagi suatu keahlian yang dimiliki oleh beberapa orang tetapi hampir semua orang bisa memasukkannya ke dalam curriculum vitae untuk melamar pekerjaan.

Bagi saya, menyusun rencana perjalanan haruslah dimulai dengan pertanyaan dasar ini, "mau lo apa?" dan tentu saja, pertanyaan ini juga berlaku di dalam hidup yang dipenuhi oleh banyak pilihan dan tak sekadar pilihan berganda semacam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Pertanyaan dasar ini harus ditanyakan ketika kita menentukan destinasi yang akan kita tuju.

Salah satu contohnya adalah ketika saya memutuskan untuk ke Iran, tujuan saya di sana hanya satu: saya mau mengenal negara yang bertahun-tahun dimusuhi Amerika Serikat dan diblokade ekonominya. Ada visi yang harus ditempatkan ketika kita berjalan-jalan sehingga perjalanan yang tidak murah itu menjadi lebih bermakna. Contoh lain adalah ketika jalan-jalan ke Jepang, tujuannya adalah untuk merasakan coffee culture yang mulai naik daun di Tokyo dan otomatis, kita membuat setiap rencana perjalanan kita tertuju pada jawaban dari pertanyaan, "mau lo apa?"

Pertanyaan ini cukup membantu ketika saat menentukan tempat-tempat apa yang dituju kita tidak larut berlama-lama dalam kebingungan. Mau ini dan mau itu serta melupakan esensi dari kenapa kita jalan-jalan adalah hal yang bagi saya sangat disayangkan. Mengetahui apa yang menjadi tujuan utama kita ketika jalan-jalan adalah langkah awal sebelum menyusun strategi agar visi tersebut tercapai.

#2 GUE NGGAK SUKA INI
Ada orang yang bisa melakukan kompensasi terhadap tempat penginapan tetapi tidak terhadap maskapai penerbangan yang harus full service airline dan bukan low budget. Beberapa orang tidak suka makan pagi tetapi mereka lebih memilih untuk makan siang. Ada orang yang suka jalan-jalan ke museum dan lebih memilih untuk menghindari pusat perbelanjaan. Mengenal preferensi kita sendiri.

Mengenali apa yang kita tidak suka adalah langkah kedua. Kenapa ini menjadi hal yang penting? Kita bisa menurunkan ekspektasi terhadap destinasi serta memahami risiko ketika kita akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut. Sederhananya: tidak misuh-misuh dan mengeluh.

Langkah ini juga penting kita kita berjalan-jalan di satu kelompok atau punya pasangan yang juga hobi jalan-jalan. Mengetahui apa yang rekan seperjalanan kita tidak suka adalah tindakan preventif pertama untuk meminimalisir drama.

Mengenali diri sendiri juga membuat kita pun tidak menjadi ambisius ketika menentukan destinasi. Kalau memang kaki sudah jompo dan tidak diajak berkompromi untuk jalan-jalan ke 5 tempat sekaligus di dalam satu hari, tidak usah dipaksakan atau kalau pun dipaksakan, jangan mengeluh.

Kita pun bisa belajar untuk siap dengan segala situasi dan kondisi. Saya adalah orang yang harus mandi sehari minimal dua kali, pun demikian ketika saya jalan-jalan ke negara yang sedang musim dingin, yang mana sebenarnya tidak usah mandi juga tidak apa-apa. Saat saya mengetahui bahwa pergi ke Erta Ale di Ethiopia membutuhkan perjalanan darat yang minim kamar mandi dan ada kemungkinan saya tidak akan mandi, apakah saya membatalkan niat saya untuk ke sana? Tidak. Saya justru bisa mempersiapkan diri saya untuk menghadapi kemungkinan tidak akan mandi selama dua hari dan meminimalisir misuh-misuh di perjalanan.

Intinya sih, you know what do you sign up for.

#3 GOOGLE EVERYTHING! 
Saya sesungguhnya suka jengah dengan orang-orang yang lumayan malas untuk melakukan riset sendiri dan kemudian langsung melempar pertanyaan yang entah sifatnya general, penuh dengan ketakutan atau clueless ke forum-forum traveler. Bukan berarti hal tersebut adalah tindakan yang penuh dosa, tetapi di era sekarang ini, segala sesuatu bisa di-Google dengan sedemikian canggihnya. Mulai dari urusan bagaimana mengajukan visa, tempat-tempat mana yang menarik, restoran halal mana yang ada, endebra dan endebre.

Saya menghabiskan cukup lama untuk membaca referensi dan tidak hanya menyusuri website berbahasa Inggris saja tetapi juga website milik orang lokal dan menggunakan google translate untuk bisa mengetahui pendapat lokal tentang suatu tempat wisata atau tempat makan. Perlu waktu untuk menguasai keahlian untuk riset ini dan saya percaya bahwa semua orang bisa belajar keahlian ini.

Saya percaya dan yakin setiap orang itu berbeda dan unik, pun demikian untuk urusan jalan-jalan. Setiap orang punya perasaan yang berbeda ketika berjalan-jalan di suatu tempat dan belum tentu apa yang kita alami itu mendapatkan kesan tersendiri di dalam kacamata orang lain.

Satu hal yang pasti: Travel does change things. The person that leaves is rarely the same as the one that returns. 

Selamat mempersiapkan perjalanan! 

Saturday, September 10, 2016

09: Restitutio ad integrum


Restitutio ad integrum /rɛstɪˈtjuːtɪəʊ ad ɪnˈtɛɡrəm/, restoration of an injured party to the situation which would have prevailed had no injury been sustained; restoration to the original or pre-contractual position.

Saya suka sekali mencoba mengaplikasikan suatu prinsip hukum ke dalam kehidupan sehari-hari yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan hukum. Di minggu ini, saya teringat prinsip hukum tentang mengembalikan kepada keadaan semula atau melakukan restorasi seolah keadaan yang sudah rusak itu kembali kepada kondisi awal. Ada sebuah peristiwa di dalam hidup saya yang membuat saya berpikir untuk mengembalikan kepada kondisi semula. 

Ada masanya di dalam rentang kehidupan yang kita alami, kita disakiti oleh sebuah peristiwa, entah itu urusan patah hati, kekecewaan, mengalami akar pahit karena persahabatan yang retak atau pertengkaran. Kita pasti pernah mengalami masa-masa itu yang pada akhirnya akan kita lalui juga karena waktu tak akan pernah berhenti meskipun peristiwa buruk terjadi. 

Permasalahnnya, sesudah peristiwa yang tidak diinginkan itu terjadi, apa yang terjadi berikutnya? Apakah keadaan kembali kepada keadaan semula? Seringkali tidak dan kita pun membiarkannya begitu saja tanpa pernah ingin memperbaiki. Vas yang sudah retak, dibiarkan begitu saja. 

Apa yang saya pikirkan sebenarnya lebih ke arah bagaimana mengembalikan perasaan kecewa itu dengan cepat, secepat kilat atau kalau perlu sekali jentikan jari maka perasaan itu akan lalu begitu saja. Misalnya, kegalauan karena orang yang kita sukai ternyata masih mencintai orang lain atau perasaan sakit hati karena cinta kita tak terbalas. Mengembalikan diri kepada keadaan semula, seolah tidak terjadi apa-apa adalah sesuatu yang sulit atau bahkan bukan menjadi pilihan ketika kita menghadapi segala kepahitan tersebut. 

Letting Go
Kita semua pernah terluka dan memang butuh proses untuk membuat keadaan kembali ke sedia kala. Apa yang saya alami di dalam minggu ini sepertinya ada hubunganya dengan the art of letting go, sama seperti apa yang saya teman saya katakan bahwa segala sesuatu di dunia ini fana sifatnya, menyimpan suatu perasaan negatif berlama-lama, tidak ada gunanya. 

Belajar untuk melepaskan rasa sakit hati adalah cara yang terbaik di dalam perspektif saya agar keadaan kembali menjadi sedia kala. Memahami bahwa memang cinta itu sedang tidak berpihak pada kita, mengampuni orang yang melakukan tindakan jahat kepada kita atau hanya sekadar belajar untuk merelakan hal buruk terjadi, adalah hal yang sulit untuk dinyatakan tetapi bukan berarti tidak bisa. 

Saya baru ingat kalau di bulan Maret tahun ini, saya pun belajar hal yang sama, tentang makna melepaskan. Saya pun teringat dengan judul blog di tahun ini: lost and found, we lost something but we also found something in life. 

Mengembalikan kepada keadaan semula dengan cara melepaskan bukan dengan cara memendam amarah atau menyimpan dendam, ini yang lagi-lagi harus saya pelajari lebih lanjut.

Selamat berdamai dengan diri sendiri! Selamat long weekend

Wednesday, September 07, 2016

09: Setiap Orang Punya Kisah Cintanya Masing-Masing


"Iya sih, setiap orang mempunyai kisah cintanya masing-masing."

Saya tertegun dengan celetukan yang saya buat sendiri tadi malam di depan seseorang ketika makan bakmi di kawasan Mangga Besar. Saya tahu bahwa kalimat tersebut sebenarnya ditujukan kepada saya sendiri dan kemudian menjadi pertanyaan reflektif selama satu malam suntuk. Jadi, kisah cintamu itu sebenarnya seperti apa?

Banyak orang yang ingin merasakan yang namanya jatuh cinta serta terbuai oleh kisah-kisah cinta yang romantis dan dramatis. Ketika kita mengadakan suatu survei misalnya, pasti akan lebih banyak orang yang memilih untuk mewarnai kisah cintanya dengan hal-hal yang sifatnya romantis ketimbang  hal-hal yang sifatnya sedih. Padahal, apakah peristiwa penuh kesedihan tersebut bukankah kisah cinta? Jawabannya sih, peristiwa sedih tersebut adalah kisah cinta juga.

Berapa banyak sih dari kita yang masih berharap diam-diam akan seseorang? Terlalu baper alias bawa perasaan ketika tahu bahwa orang yang kita suka ternyata menyukai orang lain atau masih punya hubungan dengan orang lain? Saya menduga banyak yang merasakan hal tersebut. 

Saya pun secara jujur mengakui bahwa masih sering membuka akun Instagram seorang crush saya dan ketika berpapasan di pusat perbelanjaan pada saat makan siang di dekat kantor saya, ego saya seolah mengatakan bahwa saya jauh lebih oke dibandingkan saya yang dulu dan seruan maha angkuh pun ada di dalam hati saya, "Nyesel kan lo dulu 'ninggalin gue?", padahal sih, kalau dia sekarang mengejar saya, saya pasti akan luluh juga. 

Cinta itu adiktif dan seolah candu dan terbuai di dalam kisah cinta adalah sesuatu yang kita rindukan sekaligus kita benci, ketika berhadapan pada peristiwa-peristiwa yang tak sesuai dengan harapan apalagi kenyataan. 

Hidup sih seringkali memang tidak adil. Ada orang yang kisah cintanya manis seperti kisah Cinderella, they live happily ever after. Namun, ada juga yang kisah cintanya bagaikan Maleficient yang justru kehilangan atau dikhianati oleh orang yang dia cintai.

Bahkan mungkin, ketika kita menjalin kisah cinta yang satu, kita juga masih terjebak di dalam kisah cinta yang masih ada. Kita membuat kisah cinta di dalam kisah cintai. Rumit? Lumayan.

Kisah cinta kita mungkin tidak hanya satu, tetapi puluhan atau bahkan, ratusan. Karena sebenarnya mencintai itu adalah proses dan bukan hanya semata-mata urusan hasil. Urusan dia suka atau tidak, itu urusan berbeda yang penting: kita pernah belajar untuk mencintai dan merangkai kisah cinta sendiri. Terkadang, belajar itu jauh lebih menarik dibandingkan dari mendapatkan. Ada suatu kecenderungan "take it for granted" ketika sudah mendapatkan dan pada akhirnya, ketika yang didapatkan tersebut sudah lepas maka back to square-one dan ditambah raungan penyesalan.

Dengan belajar mencintai, saya pun jadi tahu, saya adalah orang yang seperti apa dan belajar untuk memahami preferensi saya akan sebuah kisah cinta, termasuk di dalamnya, bagaimana saya mengatasi patah hati atau bertepuk sebelah tangan. Ini adalah kisah cinta yang juga bertarung dengan ego karena ego manusia pada dasarnya adalah berkisar tentang keinginan untuk memiliki dan tentu saja, prinsip ke-AKU-an.

Saya tidak tahu tulisan saya hari ini cukup terstruktur dengan baik atau tidak, tetapi karena lagi banyak pikiran, ya nulis aja deh! 

Selamat menjelang makan siang! Selamat menyambut long weekend! Selamat merajut kisah cintamu masing-masing!

Sunday, August 28, 2016

08: Toleransi


toleran /to·le·ran/ a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

toleransi /to·le·ran·si/ n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh --; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.

Saya rasanya mendengarkan kata "toleransi" dan belajar apa makna toleransi saat saya duduk di pendidikan dasar, pelajaran tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ada satu bab khusus yang membahas tentang toleransi, tepa selira atau tenggang rasa. Kata ini digaung-gaungkan saat Orde Baru masih berkuasa dan yang tentu saja, nampaknya toleransi masih mendapatkan tempat di hati setiap orang. Makna ini dibungkus dengan pemahaman bahwa Indonesia ini meskipun berbeda-beda, tetapi kita tidak sepantasnya kita mendahulukan perbedaan dan serta-merta melupakan apa yang mempersatukan. Berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Perbedaan tidak seharusnya membuat kita berbeda. 

Saya mencari kata "toleransi" dan kata "toleran" di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan saya cukup terkejut ketika mengetahui bahwa ada makna tambahan dari apa yang pernah saya pahami sebelumnya. Toleran, sebagaimana saya kutip di atas, pada prinsipnya adalah sifat atau sikap yang membiarkan pendirian yang berbeda dari pendirian sendiri. Saya menangkap bahwa sifat ini adalah sifat yang memang diharapkan bagi orang Indonesia. Kita punya sikap toleran terhadap pandangan yang berbeda yang dikemukakan atau dianut oleh orang lain. Tidak hanya pandangan, tetapi aspek-aspek lain di hidup orang lain yang memang sudah seharusnya berbeda karena variabel hidup manusia tidak hanya hitam atau putih, tetapi juga bisa warna biru, kuning, abu-abu atau bahkan pelangi.

Toleransi yang kondisional
Makna berbeda yang saya maksudkan adalah makna kedua dan ketiga. Toleransi juga bisa bermakna batas ukur yang masih diperbolehkan atau penyimpangan yang masih dapat diterima. Ini mungkin di dalam konteks proses pembuatan suatu produk, uji coba di laboratorium atau hal-hal lain yang membutuhkan suatu proses pengerjaan. Namun, saya mencoba untuk bertanya kepada diri saya sendiri, apa jangan-jangan ketika saya menerapkan prinsip toleransi, saya menerapkan makna yang kedua dan ketiga ini saat melihat hidup, keyakinan dan prinsip orang lain? Dengan kata lain, saya punya batasan tertentu, mana yang masih dapat diterima dan mana yang jelas-jelas harus dikafirkan pandangannya?

Jangan-jangan, saya pun membatasi sikap toleran saya dengan membuat ukuran tersendiri. Kalau masih bisa ditoleransi, ya sudahlah. Namun, kalau sudah lewat dari ukuran yang saya buat, maka sudah sepantasnya saya bisa mendebat, menolak dan lebih ekstrim lagi, saya membuat orang tersebut masuk ke dalam ukuran yang saya buat sehingga orang tersebut pandangan atau cara hidupnya paling tidak berada di ambang batas yang saya buat. Saya akan bersikap toleran kalau tunggu dulu, pandangannya masih sesuai dengan apa yang saya pahami atau tidak?

Sebuah toleransi yang kondisional. Kita hanya akan menghargai pandangannya selama pandangan tersebut memenuhi ukuran yang kita buat. Kita memberikan batasan dan membentang jarak untuk bersikap toleran dengan orang lain. Ini tidak hanya untuk urusan agama tetapi juga pandangan-pandangan lain. Bagi saya, sikap "toleran" semacam ini bukanlah "toleran" tetapi berubah menjadi "intoleran" karena kita memasukkan ukuran tersendiri untuk bisa menenggang pandangan orang lain.

Seberapa sering kita menemukan sikap-sikap ini di dalam kehidupan sehari-hari? Di sosial media contohnya, saat agama menjadi komoditas jualan dan memasuki ranah publik ketimbang ranah privat, kita dengan mudahnya menemukan pandangan-pandangan intoleran. Perbedaan pandangan direntangkan dan dipaparkan secara gamblang, yang bagi saya, diskusi tersebut tidak akan pernah efektif. Demikian halnya dengan urusan seksualitas ataupun pandangan politik, komoditas lain yang juga mudah untuk dijual di Indonesia yang sering memunculkan sikap intoleran.

Saya rasa, saya pun harus belajar banyak untuk hal ini, mengembalikan makna toleransi ke makna yang sebenarnya. Menghargai apapun pilihan dan pandangan hidup orang lain secara seutuhnya, tanpa ada ukuran dan syarat agar orang tersebut dapat diterima di dalam hidup saya.

Selamat hari Minggu! Selamat belajar bertoleransi sebagaimana mestinya! 

Friday, August 26, 2016

08: Straight People Problem


Tulisan ini adalah bentuk pemikiran saya tentang pemahaman-pemahaman yang hampir setiap hari kita temui sebagai orang Indonesia. Tulisan ini tidak ingin menyudutkan salah satu pihak tertentu tetapi bermaksud untuk membuat kita semua berpikir kritis tentang perilaku dan sikap tindak yang kita lakukan, sebagai orang Indonesia. 

Saya tertegun ketika membaca sebuah pesan Whatsapp dari salah seorang teman lama di sebuah grup pagi ini. Ada salah satu teman perempuan yang berulang tahun dan memang sudah sewajarnya, sebagai teman atau kolega, saya mengucapkan ucapan sederhana, "Selamat ulang tahun! Selalu bahagia!" 

Namun, sebelum saya mengucapkan ucapan tersebut, saya terusik oleh sebuah ucapan ulang tahun sederhana yang mungkin secara tidak sadar kita lakukan juga kepada teman-teman kita. 

"Selamat ulang tahun! Semoga cepat dapat pasangan ya!" 

Saya terusik membacanya karena seolah-olah mendapatkan pasangan adalah tujuan utama dan harapan dari orang-orang di sekelilingnya. Saya kemudian mencoba untuk berpikir lebih lanjut dan melemparkan suatu tambahan kalimat di ucapan ulang tahun kepada teman saya itu, "Selamat ulang tahun! Be content! Be happy! Mendapatkan pasangan atau tidak, tidak akan mengurang kebahagiaan!" 

Saya pun langsung mendapatkan balasan, "says the singles" dengan emoticon senyuman. 

Senyuman yang tidak lucu. Tidak lucu. Lalu kemudian dilanjutkan pesan di Whatsapp dengan pandangan-pandangan tentang pentingnya punya pasangan yang menurut saya, sangat tidak relevan.

Mind Your Own Business
Kita rasanya hidup di era dimana hal-hal yang sifatnya pribadi pasti akan menjadi urusan komunal. Pertanyaan atau seruan "kapan menikah?", "pasangannya mana?" atau "cepat dapat jodoh ya!" adalah hal-hal sederhana yang membuktikan bahwa kita secara tidak sadar pun mengurusi hidup orang lain. 

Harapan-harapan agar orang lain ingin cepat-cepat punya pasangan pun sepertinya juga menjadi urusan kita, seolah gaji kita akan bertambah atau saldo tabungan mendadak penuh karena teman kita punya pasangan. Padahal, kita tidak pernah tahu, ada alasan-alasan apa yang membuat orang tersebut belum punya pasangan, momongan atau memang ia tidak punya keinginan untuk menikah. Maka, tidak heran bila ucapan-ucapan ulang tahun tersebut pun akan berisi hal-hal yang seringkali menyakitkan bagi yang menerima ucapan dan mungkin, ingin rasanya orang tersebut berkata, "Mending lo nggak usah ngucapin deh!" 

Indikator Kebahagiaan
Saya kemudian berpikir lebih lanjut tentang pandangan bahwa hidup akan lebih bahagia kalau berpasangan atau hidup akan lebih lengkap jika seseorang berpasangan. Apa iya? Pandangan ini kemudian banyak dibungkus oleh embel-embel keagamaan dan bagi saya, hal tersebut adalah sesuatu yang tidak benar-benar amat. 

Saya tidak menerima pendapat-pendapat berlandaskan agama di sini atau kutipan-kutipan ayat yang mengatakan bahwa manusia memang seharusnya berpasangan. Saya tidak menggunakan sudut pandang agama ketika membuat tulisan saya tetapi mencoba untuk berpikir dengan menggunakan logika, apa yang sebenarnya menjadi indikator kebahagiaan seseorang? 

Apakah orang yang tidak punya pasangan berarti hidupnya tidak bahagia? Tidak mengalami kepenuhan hidup? Rasanya dangkal sekali kalau menggunakan indikator kebahagiaan di dalam hidup hanya mengajukan pertanyaan apakah orang tersebut sudah menikah atau belum. Tidak heran jika Indonesia berada di urutan 79 dari 157 negara di dalam Indeks Kebahagiaan Dunia yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Salah satu indikator yang dipergunakan adalah sebebas apa seseorang menentukan jalan hidupnya yang jelas saja di Indonesia, kita tidak bebas-bebas amat di dalam menentukan jalan hidup karena pertanyaan "kapan menikah?" Pertanyaan tersebut mungkin akan dibalut dengan unsur keagamaan atau adat istiadat yang kental karena memang, itulah Indonesia. 

Saya hari ini kemudian berpikir kembali tentang makna mencari kebahagiaan di dalam hidup. Kalau memang tujuan akhirnya hanyalah untuk berkeluarga, kok rasanya hidup ini sangat membosankan sekali ya? Saya tidak menutup kemungkinan memang ada orang-orang yang ingin sekali berkeluarga tetapi bagi yang ingin berkeluarga namun belum ada pasangannya, apakah lantas orang tersebut hidupnya tidak bahagia? Tidak juga. Terlalu picik pun rasanya ketika menghubungkan kebahagiaan seseorang dengan urusan jodoh, pasangan, pacaran atau pernikahan. Punya pasangan memang bisa membuat hidup bahagia tetapi hal ini tidak absolut. Apakah ada yang menjadi depresi setelah punya pasangan? Ada juga.

Hidup ini pilihan dan memang ada orang yang memilih untuk menikah atau tidak. Tidak serta merta orang yang punya pasangan hidupnya jauh lebih sempurna dibandingkan yang tidak menikah. Ini juga pemikiran yang buat saya, terlalu picik. 

Oh well, ini hanya pendapat pribadi semata dan karena saya pun tidak berpikiran untuk menikah sebagaimana diisyaratkan di dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia, saya pun hanya bisa berkata, "ck ck ck, straight people problem ...."  

Selamat hari Jumat! 

Thursday, August 18, 2016

08: Menghentikan Waktu di Pyongyang



Saya tidak pernah menyangka bahwa kita bisa mengunci sebuah era tanpa bantuan mesin waktu dan sangkaan saya itu ternyata benar adanya. Selamat datang di Pyongyang, ibukota Korea Utara! Satu-satunya negara yang sanggup membuat saya mengalami era dimana Stalin dan Lenin masih berkuasa, era Uni Soviet dan Perang Dingin.

Warga Korea Utara tidak menyebut diri mereka dengan sebutan Korea Utara melainkan Republik Rakyat Demokratis Korea (Democratic People of Republic of Korea, DPRK). DPRK mengklaim bahwa negara mereka adalah penguasa dari seluruh Semenanjung Korea, termasuk daerah Korea Selatan yang sejak akhir Perang Korea terpisahkan oleh garis lintang 38 derajat, tempat dimana tempat zona demiliterisasi paling sensitif di dunia berada. Mereka menganggap bahwa Amerika Serikat yang selalu mereka hujat dengan sebutan “imperialis Amerika Serikat” adalah penyebab perpisahan antara dua wilayah ini. Jangan heran jika saat berjalan-jalan di Pyongyang, kita akan banyak menemukan propaganda anti Amerika Serikat dan semangat perang melawan imperialisme dan kapitalisme di dinding-dinding gedung. Mereka pun menyebut Korea Selatan sebagai negara boneka jajahan Amerika Serikat. 

Destinasi yang Tidak Populer
Bagi orang Indonesia yang pergi ke Pyongyang apabila dibandingkan ke Seoul di Korea Selatan, negara ini adalah destinasi yang kurang populer. Lebih lanjut, pandangan bahwa Korea Utara itu tidak aman, penuh dengan mata-mata dan ketakutan bisa ditangkap sewaktu-waktu adalah asumsi-asumsi yang sebenarnya tidak valid. Sebaliknya, Korea Utara adalah salah satu negara teraman di dunia bagi para turis. Tidak ada kejahatan kepada para turis sebagaimana yang kita sering alami di kota-kota di Asia atau bahkan Eropa, tidak ada pengemis atau gelandangan, dan tidak ada penipuan kepada para turis di pusat-pusat perbelanjaan. Perjalanan berlansung hampir tanpa hambatan. 


Pandangan bahwa para turis tidak bisa bergerak dengan bebas memang ada benarnya. Para turis tidak bisa melakukan perjalanan sendirian ke Korea Utara karena semuanya dikontrol oleh pemerintah. Hal ini berarti, apabila saya melakukan perjalanan seorang diri maka saya harus menggunakan agen-agen tur milik Pemerintah Korea Utara dan saat saya tiba di Pyongyang, saya akan ditemani oleh dua orang pemandu wisata lokal yang akan mengurus segalanya, termasuk untuk urusan penginapan, jadwal perjalanan, tempat-tempat mana yang akan dikunjungi dan tempat makan. Pemerintah Korea Utara ini cukup sensitif terhadap pergerakan para orang asing di negaranya dan memang benar kalau Pemerintah Korea Utara memilih apa yang orang asing akan lihat dan rasakan. Kita tidak akan dibawa ke tempat-tempat dimana masyarakatnya mengalami kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, jalan-jalan yang tidak terawat atau perkampungan lokal. Kita hanya akan dibawa ke tempat-tempat yang memang pantas untuk dilihat oleh orang asing. Jadi, jangan harap kalau kita bisa mengunjungi penjara penyiksaan atau bahkan memiliki kesempatan untuk melihat Kim Jong Un meski dari kejauhan.


Agen Tur dan Visa
Salah satu cara untuk bisa pergi ke Korea Utara adalah dengan mengikuti beberapa paket tur yang ditawarkan. Bagi saya, lima hari adalah waktu yang cukup untuk bisa melihat Pyongyang dan berkunjung ke DMZ dari sisi wilayah Korea Utara. Beberapa agen tur misalnya Koryo Tour punya beberapa paket tur yang menarik. Saya memilih untuk menggunakan jasa Young Pioneer Tour (YPT) yang berkantor pusat di Beijing. Biaya yang dikeluarkan, di luar tiket pesawat Jakarta - Beijing, adalah sekitar IDR15,000,000 sampai IDR16,000,000. Paket ini termasuk penginapan, biaya transportasi dengan menggunakan bus pariwisata, pemandu wisata lokal, biaya makan dan biaya masuk tempat wisata, sebagaimana yang kita nikmati untuk tur biasa. Apabila ingin pergi sendiri, biayanya juga sama. 

Orang Indonesia membutuhkan visa atau kartu turis untuk bisa masuk ke Korea Utara. Apakah akan ditolak ketika kita memiliki visa Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis termasuk Uni Eropa? Tidak! Apakah kita tidak bisa masuk ke negara lain ketika sudah masuk ke Korea Utara/ Jawabannya juga tidak. Paspor kita akan bersih tanpa stempel imigrasi Korea Utara saat masuk dan keluar dari wilayah ini. Tidak ada bukti bahwa kita pernah ke Korea Utara selain selfie, foto kita dengan patung Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Un atau foto kita sedang melalukan tindakan bodoh di malam hari di tempat karaoke karena mabuk soju. Bersih tanpa cap atau bukti apapun! Sepanjang sepengetahuan saya, Korea Utara tidak pernah menolak aplikasi visa bahkan apabila diantara peserta tur tersebut bekerja sebagai seorang anggota polisi di negara setempat. Jangan khawatir, pihak tur akan mengurus aplikasi visa atau kartu turis ini dengan tambahan biaya sekitar IDR600,000 atau EUR50. Kita hanya mengirimkan e-mail berisi formulir aplikasi yang sudah diisi dan format .jpeg foto visa sebagaimana biasanya, pihak tur yang akan mengirimkan aplikasi ke Kedutaan Besar Korea Utara di Beijing. 

Perjalanan ke Pyongyang bisa dicapai dengan dua cara yaitu menggunakan pesawat Air Koryo dari Beijing dengan durasi 1 jam 40 menit atau naik kereta dari Beijing dengan durasi 24 jam namun mendapatkan pengalaman berganti kereta dari Dandong di Tiongkok kemudian melewati imigrasi Korea Utara di dalam kereta. Terbang dengan Air Koryo, satu-satunya maskapai penerbangan berbintang satu versi SkyTrax adalah pengalaman tersendiri. Servisnya tergolong baik dan tentu saja, kita akan mendapatkan sebuah burger dingin berisi daging. Salah satu lelucon diantara para turis adalah kita tidak pernah tahu, daging apa yang disajikan sebagai kudapan di saat penerbangan. Jangan berharap kalau kita akan menaiki pesawat AirBus atau Boeing, kita hanya akan menaiki pesawat buatan Rusia seperti Tupolev dan nuansa tahun 1990an serta video musik-musik propaganda adalah menu mereka sepanjang perjalanan. 


Imigrasi
Sejauh saya berjalan-jalan, tidak ada imigrasi yang seketat Korea Utara. Tiba di bandara yang letaknya 30 menit dari Pyongyang, saya diperhadapkan pada petugas imigrasi yang sigap. Sebagai orang asing, saya diminta untuk mendeklarasikan alat komunikasi, kamera, buku dan laptop yang saya bawa. Apakah mereka akan memeriksanya? Jelas iya. Petugas imigrasi akan memeriksa isi dari kamera, laptop, telepon seluler bahkan buku yang kita bawa. Mereka ingin memastikan bahwa kita tidak membawa pornografi, informasi di dalam bentuk apapun tentang Korea Utara dan Korea Selatan (termasuk buku panduan perjalanan) dan alat pemandu GPS. 

Setelah melewati imigrasi yang sangat cepat,  saya mengambil bagasi lalu pergi ke pemeriksaan bea cukai. Di sinilah mereka akan memeriksa seluruh apa yang kita sudah deklarasikan. Apakah mereka piawai mengoperasikan Macbook, iPad atau iPhone? Jawabannya, IYA! Saya mencoba memperhatikan dan ternyata, beberapa di antara mereka, hanya penasaran dengan lagu-lagu apa yang ada di dalam iPod. Lucu memang. 


Presiden Kim Il Sung, Jenderal Kim Jong Il dan Marsekal Kim Jong Un
Korea Utara adalah satu-satunya negara yang memiliki satu presiden yang sudah meninggal yaitu Presiden Kim Il Sung. TIdak ada presiden lain selain beliau. Berjalan-jalan ke Korea Utara harus bersiap dengan konsekuensi ini, memperlakukan ketiga pribadi ini dengan penuh hormat. Saya tidak pernah ada di sebuah negara yang mana pemimpin negaranya begitu dipuja-puja dan digaungkan hampir setiap hari. Wajah Kim Jong Un pasti ada hampir setiap hari di The Pyongyang Times, koran pemerintah berbahasa Inggris, dengan pose sedang memberikan instruksi sesuatu kepada bawahannya. Ah! Jangan lupa, koran ini tidak bisa sembarangan dilipat atau dibuang begitu saja. Mengapa? Karena ada wajah Marsekal Kim Jong Un di sana. Jadi, tidak pernah ada bungkus kacang goreng atau bungkus gorengan yang terbuat dari koran bekas di Korea Utara. 

Saya akan selalu diminta untuk memberi hormat setiap kali ada di sebuah monumen, tugu atau patung yang menggambarkan Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Il. Di beberapa tempat bahkan saya tidak bisa mengambil gambar, Mereka memperlakukan tempat-tempat ini bagaikan tempat suci dan sakral. Pose foto saya pun tidak bisa sembarangan. Jadi, jangan mencoba untuk berpose gangnam style atau melompat di depan patung besar Kim Il Sung dan Kim Jong Il kalau tidak mau ditegur dan dimarahi di depan umum. 

Di beberapa bangunan yang diresmikan atau dibangun oleh tiga pribadi ini pasti akan ada foto atau patung para pemimpin Ini. Di tempat berenang dan rekreasi misalnya, area ini dibangun oleh Jenderal Kim Jong Il dan otomatis ada satu patung Kim Jong Il tepat di pintu masuk bangunan ini. Saya pun berpikir, ini sebenarnya penanda bahwa rakyat sudah seharusnya bersyukur karena dibangunkan tempat seperti ini dengan biaya masuk yang sama sekali gratis. 


Negara dimana propaganda dan pemahaman bahwa para pemimpin sangat begitu berjasa ini, merupakan suatu hal yang mudah untuk membuat masyarakatnya pun patuh. Di negeri ini, Pemerintah Korea Utara hampir sepenuhnya memberikan akses dan kebutuhan dasar seperti bahan pangan, sandang, dan juga papan. Di Pyongyang, gedung-gedung tinggi dibangun berwarna-warni, sebuah rumah susun bagi warga Korea Utara terpilih dan loyal kepada pemerintah. Saya pun membayangkan bagaimana nasib warga Korea Utara yang berada di propinsi lain di negeri tersebut. Apakah mendapatkan akses yang sama? Tak ada yang pernah tahu. Sejauh yang saya lihat, masyarakatnya sangat patuh dan tunduk dengan pemerintah. 

Pin berwajah Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Il tersemat di dada sebelah kiri semua warga Korea Utara, tanpa terkecuali. Saya dengan mudah membedakan mana yang turis dan mana yang warga asli, hanya karena pin tersebut. Pin tersebut didapatkan dengan cuma-cuma kepada warga, sebuah penanda bahwa warga Korea Utara merasa memiliki kedua orang yang dianggap dewa dan penyelamat bangsa atau justru sebaliknya, pin tersebut penanda bahwa kedua orang tersebut menjadikan rakyat sebagai hak milik mereka?


Entahlah.

Tuesday, August 16, 2016

08: Pyongyang, 16 Agustus 2016


Sebagai orang Indonesia, saya menerima segala sesuatunya sebagaimana sudah sepantasnya. Saya bisa menikmati apa yang dunia luar bicarakan, membaca segala sesuatunya tanpa ada sensor serta informasi yang tak terbatas. Saya pun dengan leluasa menikmati kemewahan perbelanjaan ibukota, mengeluarkan uang untuk segelas kopi yang mungkin bisa seharga sarapan untuk satu keluarga di belahan dunia sana. Saya pun dengan leluasanya bisa melompat dari satu bandara ke bandara lainnya tanpa ada hambatan dan izin dari Pemerintah Republik Indonesia. Saya bisa dengan bebas mengkritik kebijakan Jokowi dan para menterinya. It is absolutely true that I take all these privileges for granted.
 
 
Traveling really does a life changing experience. Sepanjang saya berjalan-jalan ke empat negara axis of evil, sebuah istilah yang diutarakan oleh Presiden George W. Bush tentang Myanmar, Kuba, Iran dan Korea Utara, dada saya tidak terasa sesesak ini dan pikiran saya tidak penuh dengan pertanyaan. Saya benar-benar mengalami shock therapy di Pyongyang. Sebagai warga negara asing, saya benar-benar terisolasi dengan apa yang terjadi di dunia luar meskipun saya bisa menerima siaran berita Al-Jazeera di kamar hotel saya, tetapi tetap saja, merasakan apa yang orang lokal rasakan itu adalah sesuatu yang asing.
 
 
Di negara yang seolah dapat dengan ajaibnya membekukan waktu, mereka sangat mengagungkan tiga pemimpinnya, Sang Presiden Kim Il Sung, Sang Jenderal Kim Jong Il dan sang Laksamana Kim Jong Un. Semua pujian, keagungan dan persembahan hanya untuk tiga orang ini. Mereka adalah pemilik wilayah dan mereka menyebut tanah air mereka dengan sebutan “Fatherland” dan bukan “Motherland” sebagaimana saya menyebut Indonesia dengan sebutan “Ibu Pertiwi”. Saya banyak berpikir tentang nasionalisme, kecintaan akan negara dan bagaimana hubungannya dengan pemimpin negara tersebut.
 
 
Di Korea Utara, segala sesuatu diatur oleh Sang Laksamana yang menggantikan Sang Presiden dan Sang Jenderal. One country, one government, one direction. Tidak boleh ada pembangkangan dari semuanya dan saya pun terkejut saat mengetahui bahwa semua orang di Pyongyang, tidak perlu berpikir mau jadi apa ketika sudah besar nanti karena semuanya telah ditentukan. Pendidikan, rumah, kesehatan, dan bahan pangan, semuanya diberikan. Pemerintah memberlakukan warga Pyongyang sebagai anaknya sendiri yang diberikan segala hal yang cukup untuk hidup sehari-hari. Akibatnya? Mereka pun harus berterima kasih dan menghormati sang pemberi berkat-berkat ini semua. Di sini saya pun mulai menghubungkan tentang cinta tanah air atau justru, cinta pada pribadi sampai mengkultuskan sang pribadi tersebut. Saya cinta tanah air saya, Indonesia tetapi apakah saya cinta mati dengan Jokowi bahkan rela mendirikan patung perunggu setinggi 22 meter dan menyinarinya di malam hari serta memasang pin Jokowi di dada saya? Tunggu dulu.
 
 
Di situlah saya kemudian berusaha untuk berpikir lebih jauh, apakah orang-orang ini benar-benar cinta dengan tanah air mereka atau mereka terlalu naïf sehingga mudah untuk dididik sedemikian rupa dengan tambahan blokade informasi dari dunia luar? Lebih lanjut, saat semuanya sudah dipenuhi dengan cukup, dimana posisi agama dan tentu saja, Tuhan? Ini pertanyaan lebih lanjut dan  bersifat cukup religius.
 
 
Berjalan-jalan di Pyongyang dan mencoba berbaur dengan masyarakat lokal adalah pengalaman yang tak biasa dan merupakan pembelajaran hidup terpenting. Saya pun memahami bagaimana naifnya mereka, rasa malu-malu ketika berhadapan dengan orang asing, kekaguman bahwa si orang asing ternyata bisa sedikit berbahasa Korea atau pandangan penasaran yang dilemparkan diam-diam. Pengalaman ini membuat pikiran saya diputarbalik dalam semalam.
 
 
Saya hanya dapat bisa terdiam ketika saya tahu bagaimana saya menerima apa yang telah Indonesia berikan kepada saya dengan begitu saja ketika membandingkan dengan seorang pemuda Korea Utara seusia saya yang harus bekerja 6 hari di dalam seminggu di Pyongyang.
 
 
Selamat malam, Pyongyang! Selamat menyambut hari kemerdekaan, Indonesia!

Sunday, August 07, 2016

08: Menjadi Orang Ketiga


“Gue kayaknya memang punya bakat jadi orang ketiga di dalam hubungan orang.” 

Saya hampir saja tersedak negroni yang baru saya minum saat mendengar ucapan teman saya di sebuah whisky bar di Jakarta. Saya pun kemudian bertanya kepada diri saya sendiri, sepertinya saya pernah di dalam posisi menjadi orang ketiga di dalam hubungan orang lain atau bahkan, membuat orang lain hadir sebagai orang ketiga di dalam hubungan saya. Dipermainkan dan mempermainkan adalah kuncinya. 

Yang ketiga itu setan, tapi servisnya mungkin kayak ketan! 
Saya adalah orang yang cenderung untuk mundur atau bahkan mulai membuat pagar, ketika saya tahu, orang yang saya suka ternyata malah punya pacar atau sedang mengejar orang lain (dan naasnya, bukan saya justru yang dikejar). Menjadi orang ketiga itu memang menyenangkan sebenarnya, tak perlu ada ikatan tetapi tetap mendapatkan perhatian. 

Kenapa seseorang bisa tertarik dengan orang ketiga, pasti ada alasannya atau bahkan terselip rasa penyesalan, “Sial! Kenapa gue nggak ketemu dia duluan sebelum ketemu pacar gue yang sekarang ya?” Apa yang sebelumnya menjadi penyesalan kemudian menjadi permainan pikiran tersendiri. Ini pun mudah terjadi saat long distance relationship menjadi tema utama suatu hubungan. Pacar jauh dan ada yang lebih dekat dan digenggam, ya sudahlah, mari bermain!

Drama dan Balada
Saya bukan orang yang ingin terlibat dan melibatkan diri di dalam suatu drama atapun balada, karena memang saya bukan termasuk tokoh di dalam kisah “Balada Kera”. Oke, yang terakhir ini memang ngarang. Adalah hal yang benar ketika kita berkata cinta itu harus diperjuangkan tetapi, bagi saya, adalah hal yang salah ketika memperjuangkan cinta harus dengan menjadi orang ketiga serta membuat orang lain menderita. Kebahagiaan utama tercapai saat kita melihat orang lain menderita dan perselingkuhan adalah kunci utama. Bagi saya, ini adalah hal yang tidak etis untuk memulai sebuah hubungan.  

Setia
Kata “Setia” pun hanya menjadi judul one hit wonder-nya Jikustik, sebuah band ’90-an yang merajai tangga lagu saat itu, dan tak lagi diagung-agungkan di dalam suatu hubungan. Berjuang untuk setia di dalam suatu hubungan menjadi suatu hal yang jarang dilakukan, terlebih lagi ketika sejak awal keduanya tak pernah tahu, mau dibawa kemana hubungan tersebut (sebagaimana lagu Armada). Mencari cowok yang setia atau mencari cewek yang setia di zaman sekarang ini adalah sama sulitnya dengan mencari kristal Swarovisky di balik tumpukan payet dan benang kebaya kawinan. Rempong, cyin! Mungkin penyebabnya adalah kita memiliki natur yang tak mau rugi di dalam suatu hubungan. Kalau pada akhirnya gue nggak sama dia, buat apa gue susah-susah memfokuskan diri gue sama dia saat ada orang lain? Tapi apakah benar demikian? 

Lagi-lagi, menjadi orang ketiga atau justru lebih memilih untuk setia atau melihat orang lain bahagia, ini pun pilihan terberat di dalam hidup. 


Selamat hari Minggu sore!