Pages

Thursday, August 18, 2016

08: Menghentikan Waktu di Pyongyang



Saya tidak pernah menyangka bahwa kita bisa mengunci sebuah era tanpa bantuan mesin waktu dan sangkaan saya itu ternyata benar adanya. Selamat datang di Pyongyang, ibukota Korea Utara! Satu-satunya negara yang sanggup membuat saya mengalami era dimana Stalin dan Lenin masih berkuasa, era Uni Soviet dan Perang Dingin.

Warga Korea Utara tidak menyebut diri mereka dengan sebutan Korea Utara melainkan Republik Rakyat Demokratis Korea (Democratic People of Republic of Korea, DPRK). DPRK mengklaim bahwa negara mereka adalah penguasa dari seluruh Semenanjung Korea, termasuk daerah Korea Selatan yang sejak akhir Perang Korea terpisahkan oleh garis lintang 38 derajat, tempat dimana tempat zona demiliterisasi paling sensitif di dunia berada. Mereka menganggap bahwa Amerika Serikat yang selalu mereka hujat dengan sebutan “imperialis Amerika Serikat” adalah penyebab perpisahan antara dua wilayah ini. Jangan heran jika saat berjalan-jalan di Pyongyang, kita akan banyak menemukan propaganda anti Amerika Serikat dan semangat perang melawan imperialisme dan kapitalisme di dinding-dinding gedung. Mereka pun menyebut Korea Selatan sebagai negara boneka jajahan Amerika Serikat. 

Destinasi yang Tidak Populer
Bagi orang Indonesia yang pergi ke Pyongyang apabila dibandingkan ke Seoul di Korea Selatan, negara ini adalah destinasi yang kurang populer. Lebih lanjut, pandangan bahwa Korea Utara itu tidak aman, penuh dengan mata-mata dan ketakutan bisa ditangkap sewaktu-waktu adalah asumsi-asumsi yang sebenarnya tidak valid. Sebaliknya, Korea Utara adalah salah satu negara teraman di dunia bagi para turis. Tidak ada kejahatan kepada para turis sebagaimana yang kita sering alami di kota-kota di Asia atau bahkan Eropa, tidak ada pengemis atau gelandangan, dan tidak ada penipuan kepada para turis di pusat-pusat perbelanjaan. Perjalanan berlansung hampir tanpa hambatan. 


Pandangan bahwa para turis tidak bisa bergerak dengan bebas memang ada benarnya. Para turis tidak bisa melakukan perjalanan sendirian ke Korea Utara karena semuanya dikontrol oleh pemerintah. Hal ini berarti, apabila saya melakukan perjalanan seorang diri maka saya harus menggunakan agen-agen tur milik Pemerintah Korea Utara dan saat saya tiba di Pyongyang, saya akan ditemani oleh dua orang pemandu wisata lokal yang akan mengurus segalanya, termasuk untuk urusan penginapan, jadwal perjalanan, tempat-tempat mana yang akan dikunjungi dan tempat makan. Pemerintah Korea Utara ini cukup sensitif terhadap pergerakan para orang asing di negaranya dan memang benar kalau Pemerintah Korea Utara memilih apa yang orang asing akan lihat dan rasakan. Kita tidak akan dibawa ke tempat-tempat dimana masyarakatnya mengalami kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari, jalan-jalan yang tidak terawat atau perkampungan lokal. Kita hanya akan dibawa ke tempat-tempat yang memang pantas untuk dilihat oleh orang asing. Jadi, jangan harap kalau kita bisa mengunjungi penjara penyiksaan atau bahkan memiliki kesempatan untuk melihat Kim Jong Un meski dari kejauhan.


Agen Tur dan Visa
Salah satu cara untuk bisa pergi ke Korea Utara adalah dengan mengikuti beberapa paket tur yang ditawarkan. Bagi saya, lima hari adalah waktu yang cukup untuk bisa melihat Pyongyang dan berkunjung ke DMZ dari sisi wilayah Korea Utara. Beberapa agen tur misalnya Koryo Tour punya beberapa paket tur yang menarik. Saya memilih untuk menggunakan jasa Young Pioneer Tour (YPT) yang berkantor pusat di Beijing. Biaya yang dikeluarkan, di luar tiket pesawat Jakarta - Beijing, adalah sekitar IDR15,000,000 sampai IDR16,000,000. Paket ini termasuk penginapan, biaya transportasi dengan menggunakan bus pariwisata, pemandu wisata lokal, biaya makan dan biaya masuk tempat wisata, sebagaimana yang kita nikmati untuk tur biasa. Apabila ingin pergi sendiri, biayanya juga sama. 

Orang Indonesia membutuhkan visa atau kartu turis untuk bisa masuk ke Korea Utara. Apakah akan ditolak ketika kita memiliki visa Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis termasuk Uni Eropa? Tidak! Apakah kita tidak bisa masuk ke negara lain ketika sudah masuk ke Korea Utara/ Jawabannya juga tidak. Paspor kita akan bersih tanpa stempel imigrasi Korea Utara saat masuk dan keluar dari wilayah ini. Tidak ada bukti bahwa kita pernah ke Korea Utara selain selfie, foto kita dengan patung Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Un atau foto kita sedang melalukan tindakan bodoh di malam hari di tempat karaoke karena mabuk soju. Bersih tanpa cap atau bukti apapun! Sepanjang sepengetahuan saya, Korea Utara tidak pernah menolak aplikasi visa bahkan apabila diantara peserta tur tersebut bekerja sebagai seorang anggota polisi di negara setempat. Jangan khawatir, pihak tur akan mengurus aplikasi visa atau kartu turis ini dengan tambahan biaya sekitar IDR600,000 atau EUR50. Kita hanya mengirimkan e-mail berisi formulir aplikasi yang sudah diisi dan format .jpeg foto visa sebagaimana biasanya, pihak tur yang akan mengirimkan aplikasi ke Kedutaan Besar Korea Utara di Beijing. 

Perjalanan ke Pyongyang bisa dicapai dengan dua cara yaitu menggunakan pesawat Air Koryo dari Beijing dengan durasi 1 jam 40 menit atau naik kereta dari Beijing dengan durasi 24 jam namun mendapatkan pengalaman berganti kereta dari Dandong di Tiongkok kemudian melewati imigrasi Korea Utara di dalam kereta. Terbang dengan Air Koryo, satu-satunya maskapai penerbangan berbintang satu versi SkyTrax adalah pengalaman tersendiri. Servisnya tergolong baik dan tentu saja, kita akan mendapatkan sebuah burger dingin berisi daging. Salah satu lelucon diantara para turis adalah kita tidak pernah tahu, daging apa yang disajikan sebagai kudapan di saat penerbangan. Jangan berharap kalau kita akan menaiki pesawat AirBus atau Boeing, kita hanya akan menaiki pesawat buatan Rusia seperti Tupolev dan nuansa tahun 1990an serta video musik-musik propaganda adalah menu mereka sepanjang perjalanan. 


Imigrasi
Sejauh saya berjalan-jalan, tidak ada imigrasi yang seketat Korea Utara. Tiba di bandara yang letaknya 30 menit dari Pyongyang, saya diperhadapkan pada petugas imigrasi yang sigap. Sebagai orang asing, saya diminta untuk mendeklarasikan alat komunikasi, kamera, buku dan laptop yang saya bawa. Apakah mereka akan memeriksanya? Jelas iya. Petugas imigrasi akan memeriksa isi dari kamera, laptop, telepon seluler bahkan buku yang kita bawa. Mereka ingin memastikan bahwa kita tidak membawa pornografi, informasi di dalam bentuk apapun tentang Korea Utara dan Korea Selatan (termasuk buku panduan perjalanan) dan alat pemandu GPS. 

Setelah melewati imigrasi yang sangat cepat,  saya mengambil bagasi lalu pergi ke pemeriksaan bea cukai. Di sinilah mereka akan memeriksa seluruh apa yang kita sudah deklarasikan. Apakah mereka piawai mengoperasikan Macbook, iPad atau iPhone? Jawabannya, IYA! Saya mencoba memperhatikan dan ternyata, beberapa di antara mereka, hanya penasaran dengan lagu-lagu apa yang ada di dalam iPod. Lucu memang. 


Presiden Kim Il Sung, Jenderal Kim Jong Il dan Marsekal Kim Jong Un
Korea Utara adalah satu-satunya negara yang memiliki satu presiden yang sudah meninggal yaitu Presiden Kim Il Sung. TIdak ada presiden lain selain beliau. Berjalan-jalan ke Korea Utara harus bersiap dengan konsekuensi ini, memperlakukan ketiga pribadi ini dengan penuh hormat. Saya tidak pernah ada di sebuah negara yang mana pemimpin negaranya begitu dipuja-puja dan digaungkan hampir setiap hari. Wajah Kim Jong Un pasti ada hampir setiap hari di The Pyongyang Times, koran pemerintah berbahasa Inggris, dengan pose sedang memberikan instruksi sesuatu kepada bawahannya. Ah! Jangan lupa, koran ini tidak bisa sembarangan dilipat atau dibuang begitu saja. Mengapa? Karena ada wajah Marsekal Kim Jong Un di sana. Jadi, tidak pernah ada bungkus kacang goreng atau bungkus gorengan yang terbuat dari koran bekas di Korea Utara. 

Saya akan selalu diminta untuk memberi hormat setiap kali ada di sebuah monumen, tugu atau patung yang menggambarkan Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Il. Di beberapa tempat bahkan saya tidak bisa mengambil gambar, Mereka memperlakukan tempat-tempat ini bagaikan tempat suci dan sakral. Pose foto saya pun tidak bisa sembarangan. Jadi, jangan mencoba untuk berpose gangnam style atau melompat di depan patung besar Kim Il Sung dan Kim Jong Il kalau tidak mau ditegur dan dimarahi di depan umum. 

Di beberapa bangunan yang diresmikan atau dibangun oleh tiga pribadi ini pasti akan ada foto atau patung para pemimpin Ini. Di tempat berenang dan rekreasi misalnya, area ini dibangun oleh Jenderal Kim Jong Il dan otomatis ada satu patung Kim Jong Il tepat di pintu masuk bangunan ini. Saya pun berpikir, ini sebenarnya penanda bahwa rakyat sudah seharusnya bersyukur karena dibangunkan tempat seperti ini dengan biaya masuk yang sama sekali gratis. 


Negara dimana propaganda dan pemahaman bahwa para pemimpin sangat begitu berjasa ini, merupakan suatu hal yang mudah untuk membuat masyarakatnya pun patuh. Di negeri ini, Pemerintah Korea Utara hampir sepenuhnya memberikan akses dan kebutuhan dasar seperti bahan pangan, sandang, dan juga papan. Di Pyongyang, gedung-gedung tinggi dibangun berwarna-warni, sebuah rumah susun bagi warga Korea Utara terpilih dan loyal kepada pemerintah. Saya pun membayangkan bagaimana nasib warga Korea Utara yang berada di propinsi lain di negeri tersebut. Apakah mendapatkan akses yang sama? Tak ada yang pernah tahu. Sejauh yang saya lihat, masyarakatnya sangat patuh dan tunduk dengan pemerintah. 

Pin berwajah Presiden Kim Il Sung dan Jenderal Kim Jong Il tersemat di dada sebelah kiri semua warga Korea Utara, tanpa terkecuali. Saya dengan mudah membedakan mana yang turis dan mana yang warga asli, hanya karena pin tersebut. Pin tersebut didapatkan dengan cuma-cuma kepada warga, sebuah penanda bahwa warga Korea Utara merasa memiliki kedua orang yang dianggap dewa dan penyelamat bangsa atau justru sebaliknya, pin tersebut penanda bahwa kedua orang tersebut menjadikan rakyat sebagai hak milik mereka?


Entahlah.

Tuesday, August 16, 2016

08: Pyongyang, 16 Agustus 2016


Sebagai orang Indonesia, saya menerima segala sesuatunya sebagaimana sudah sepantasnya. Saya bisa menikmati apa yang dunia luar bicarakan, membaca segala sesuatunya tanpa ada sensor serta informasi yang tak terbatas. Saya pun dengan leluasa menikmati kemewahan perbelanjaan ibukota, mengeluarkan uang untuk segelas kopi yang mungkin bisa seharga sarapan untuk satu keluarga di belahan dunia sana. Saya pun dengan leluasanya bisa melompat dari satu bandara ke bandara lainnya tanpa ada hambatan dan izin dari Pemerintah Republik Indonesia. Saya bisa dengan bebas mengkritik kebijakan Jokowi dan para menterinya. It is absolutely true that I take all these privileges for granted.
 
 
Traveling really does a life changing experience. Sepanjang saya berjalan-jalan ke empat negara axis of evil, sebuah istilah yang diutarakan oleh Presiden George W. Bush tentang Myanmar, Kuba, Iran dan Korea Utara, dada saya tidak terasa sesesak ini dan pikiran saya tidak penuh dengan pertanyaan. Saya benar-benar mengalami shock therapy di Pyongyang. Sebagai warga negara asing, saya benar-benar terisolasi dengan apa yang terjadi di dunia luar meskipun saya bisa menerima siaran berita Al-Jazeera di kamar hotel saya, tetapi tetap saja, merasakan apa yang orang lokal rasakan itu adalah sesuatu yang asing.
 
 
Di negara yang seolah dapat dengan ajaibnya membekukan waktu, mereka sangat mengagungkan tiga pemimpinnya, Sang Presiden Kim Il Sung, Sang Jenderal Kim Jong Il dan sang Laksamana Kim Jong Un. Semua pujian, keagungan dan persembahan hanya untuk tiga orang ini. Mereka adalah pemilik wilayah dan mereka menyebut tanah air mereka dengan sebutan “Fatherland” dan bukan “Motherland” sebagaimana saya menyebut Indonesia dengan sebutan “Ibu Pertiwi”. Saya banyak berpikir tentang nasionalisme, kecintaan akan negara dan bagaimana hubungannya dengan pemimpin negara tersebut.
 
 
Di Korea Utara, segala sesuatu diatur oleh Sang Laksamana yang menggantikan Sang Presiden dan Sang Jenderal. One country, one government, one direction. Tidak boleh ada pembangkangan dari semuanya dan saya pun terkejut saat mengetahui bahwa semua orang di Pyongyang, tidak perlu berpikir mau jadi apa ketika sudah besar nanti karena semuanya telah ditentukan. Pendidikan, rumah, kesehatan, dan bahan pangan, semuanya diberikan. Pemerintah memberlakukan warga Pyongyang sebagai anaknya sendiri yang diberikan segala hal yang cukup untuk hidup sehari-hari. Akibatnya? Mereka pun harus berterima kasih dan menghormati sang pemberi berkat-berkat ini semua. Di sini saya pun mulai menghubungkan tentang cinta tanah air atau justru, cinta pada pribadi sampai mengkultuskan sang pribadi tersebut. Saya cinta tanah air saya, Indonesia tetapi apakah saya cinta mati dengan Jokowi bahkan rela mendirikan patung perunggu setinggi 22 meter dan menyinarinya di malam hari serta memasang pin Jokowi di dada saya? Tunggu dulu.
 
 
Di situlah saya kemudian berusaha untuk berpikir lebih jauh, apakah orang-orang ini benar-benar cinta dengan tanah air mereka atau mereka terlalu naïf sehingga mudah untuk dididik sedemikian rupa dengan tambahan blokade informasi dari dunia luar? Lebih lanjut, saat semuanya sudah dipenuhi dengan cukup, dimana posisi agama dan tentu saja, Tuhan? Ini pertanyaan lebih lanjut dan  bersifat cukup religius.
 
 
Berjalan-jalan di Pyongyang dan mencoba berbaur dengan masyarakat lokal adalah pengalaman yang tak biasa dan merupakan pembelajaran hidup terpenting. Saya pun memahami bagaimana naifnya mereka, rasa malu-malu ketika berhadapan dengan orang asing, kekaguman bahwa si orang asing ternyata bisa sedikit berbahasa Korea atau pandangan penasaran yang dilemparkan diam-diam. Pengalaman ini membuat pikiran saya diputarbalik dalam semalam.
 
 
Saya hanya dapat bisa terdiam ketika saya tahu bagaimana saya menerima apa yang telah Indonesia berikan kepada saya dengan begitu saja ketika membandingkan dengan seorang pemuda Korea Utara seusia saya yang harus bekerja 6 hari di dalam seminggu di Pyongyang.
 
 
Selamat malam, Pyongyang! Selamat menyambut hari kemerdekaan, Indonesia!

Sunday, August 07, 2016

08: Menjadi Orang Ketiga


“Gue kayaknya memang punya bakat jadi orang ketiga di dalam hubungan orang.” 

Saya hampir saja tersedak negroni yang baru saya minum saat mendengar ucapan teman saya di sebuah whisky bar di Jakarta. Saya pun kemudian bertanya kepada diri saya sendiri, sepertinya saya pernah di dalam posisi menjadi orang ketiga di dalam hubungan orang lain atau bahkan, membuat orang lain hadir sebagai orang ketiga di dalam hubungan saya. Dipermainkan dan mempermainkan adalah kuncinya. 

Yang ketiga itu setan, tapi servisnya mungkin kayak ketan! 
Saya adalah orang yang cenderung untuk mundur atau bahkan mulai membuat pagar, ketika saya tahu, orang yang saya suka ternyata malah punya pacar atau sedang mengejar orang lain (dan naasnya, bukan saya justru yang dikejar). Menjadi orang ketiga itu memang menyenangkan sebenarnya, tak perlu ada ikatan tetapi tetap mendapatkan perhatian. 

Kenapa seseorang bisa tertarik dengan orang ketiga, pasti ada alasannya atau bahkan terselip rasa penyesalan, “Sial! Kenapa gue nggak ketemu dia duluan sebelum ketemu pacar gue yang sekarang ya?” Apa yang sebelumnya menjadi penyesalan kemudian menjadi permainan pikiran tersendiri. Ini pun mudah terjadi saat long distance relationship menjadi tema utama suatu hubungan. Pacar jauh dan ada yang lebih dekat dan digenggam, ya sudahlah, mari bermain!

Drama dan Balada
Saya bukan orang yang ingin terlibat dan melibatkan diri di dalam suatu drama atapun balada, karena memang saya bukan termasuk tokoh di dalam kisah “Balada Kera”. Oke, yang terakhir ini memang ngarang. Adalah hal yang benar ketika kita berkata cinta itu harus diperjuangkan tetapi, bagi saya, adalah hal yang salah ketika memperjuangkan cinta harus dengan menjadi orang ketiga serta membuat orang lain menderita. Kebahagiaan utama tercapai saat kita melihat orang lain menderita dan perselingkuhan adalah kunci utama. Bagi saya, ini adalah hal yang tidak etis untuk memulai sebuah hubungan.  

Setia
Kata “Setia” pun hanya menjadi judul one hit wonder-nya Jikustik, sebuah band ’90-an yang merajai tangga lagu saat itu, dan tak lagi diagung-agungkan di dalam suatu hubungan. Berjuang untuk setia di dalam suatu hubungan menjadi suatu hal yang jarang dilakukan, terlebih lagi ketika sejak awal keduanya tak pernah tahu, mau dibawa kemana hubungan tersebut (sebagaimana lagu Armada). Mencari cowok yang setia atau mencari cewek yang setia di zaman sekarang ini adalah sama sulitnya dengan mencari kristal Swarovisky di balik tumpukan payet dan benang kebaya kawinan. Rempong, cyin! Mungkin penyebabnya adalah kita memiliki natur yang tak mau rugi di dalam suatu hubungan. Kalau pada akhirnya gue nggak sama dia, buat apa gue susah-susah memfokuskan diri gue sama dia saat ada orang lain? Tapi apakah benar demikian? 

Lagi-lagi, menjadi orang ketiga atau justru lebih memilih untuk setia atau melihat orang lain bahagia, ini pun pilihan terberat di dalam hidup. 


Selamat hari Minggu sore! 

Thursday, August 04, 2016

08: Patah Hati


"Kasih maaf bila aku jatuh cinta, maaf bila saja 'ku suka saat kau ada yang punya." - Hivi! 

Siang ini, saya tertegun saat mendengarkan lirik lagu yang berjudul "Orang Ke-3" saat sedang makan siang di sebuah restoran. Saya tertegun karena saya berusaha untuk bertanya kepada diri saya sendiri, suatu pertanyaan sederhana, "Kapan terakhir kali saya patah hati?" 

Patah Hati
Semua orang di dunia ini suka dan sering berharap terbuai dengan perasaan jatuh cinta meskipun kita semua tahu bahwa yang namannya jatuh itu pasti sakit, tetapi pada akhirnya, kita memilih untuk jatuh cinta dan otomatis, siap dengan tersakiti atas nama cinta. Namun, berita tragisnya adalah, kita tidak siap untuk patah hati.

Perasaan ini adalah perasaan yang selalu kita hindari di dalam hidup ini (selain rasa kecewa ataupun rasa kehilangan). Saat dirundung oleh rasa patah hati, dada terasa sesak dan kita siap membombardir media sosial dengan lagu-lagu galau, kutipan tentang patah hati atau curhatan sepanjang kertas folio di newsfeed Facebook atau Path yang menunjukkan bahwa, "HALO!? GUE LAGI PATAH HATI NIH PEMIRSA!" Hal-hal tersebut yang kita lakukan saat kita, yang pada dasarnya tidak siap dengan patah hati, justru merasakan bahwa hati terasa dipatahkan berkeping-keping atau bahkan remuk redam, tak berbekas. 

Tidak Siap Untuk Patah Hati
Saya suka mengamati orang-orang di sekitar saya dan bagaimana mereka mengatasi rasa patah hatinya. Ada yang memang secara terus-menerus memperlihatkan kepada dunia bahwa ia memang sedang patah hati, ada yang berjalan-jalan untuk melupakan mantan tetapi ujung-ujungnya, terseret kembali kepada deretan masa lalu dan kenangan manis atau yang terakhir, memilih untuk puasa sosial media serta menarik diri dari segala kegembiraan dan pertemanan, waktu untuk berduka. Perilaku ini menarik karena lagi-lagi, premis awalnya adalah kita tidak dipersiapkan dan siap untuk patah hati. 

Padahal, bukankah patah hati adalah proses di dalam kehidupan ini? Sama seperti kegagalan atau kehilangan, peristiwa-peristiwa yang suka atau tidak suka pasti akan terjadi di dalam siklus hidup manusia. Perasaan-perasaan menohok seperti ini justru yang membentuk karakter dan membuat kita menjadi tidak lagi terjun ke lubang yang sama di kemudian hari saat menghadapi situasi yang hampir sama. Namun lagi-lagi, kita berusaha sedemikian rupa untuk menghindari dan memilih untuk tidak mempersiapkan diri kita untuk patah hati. 

Risiko
Ketidaksiapan untuk patah hati ini sebenarnya tidak bisa disalahkan juga, bukankah natur manusia adalah mengharapkan hal yang baik dan membuang hal yang buruk? Ini pun menjadi manusiawi tetapi kita pun bisa memilih untuk melatih diri kita untuk memiliki daya lenting yang cepat untuk segera kembali ke keadaan semula, saat tidak lagi jatuh cinta ataupun patah hati. Ini sulit tetapi bukankah kita bisa mencobanya? 

Mempersiapkan diri untuk kemungkinan patah hati adalah salah satu hal yang mungkin patut kita coba saat berusaha untuk jatuh cinta. Saat berekspektasi tentang hubungan yang indah, bahkan sampai ke pelaminan maka ada kalanya kita harus mencoba untuk berpikir tentang kemungkinan untuk putus di tengah jalan, menghadapi perselingkuhan atau hal-hal terburuk lainnya. Belajar untuk memahami risiko, bagi saya ini penting. Untuk segala keputusan, pasti ada risikonya dan termasuk untuk urusan jatuh cinta maka harus menyiapkan diri untuk patah hati, berkeping-keping dan tentu saja, luluh lantak! 

Jadi, sudah siap untuk patah hati? 

Tuesday, August 02, 2016

08: Ekspektasi


Kita pasti punya ekspektasi tentang segala sesuatu, tentang pekerjaan, sahabat, percintaan atau bahkan perjalanan yang akan kita tempuh. 

Ekspektasi adalah la causa prima, mengapa sebagian dari kita tampaknya lebih memilih untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ekspektasi tersebut. Contohnya? Saat membayangkan tentang perjalanan ke pantai, maka harapan atau ekspektasi kita akan tertuju pada pantai berpasir putih, deburan ombak, tempat bersantai sepanjang hari dan yang terakhir, sunset. Akibatnya, kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk mewujudkan ekspektasi tersebut, dimulai dari mempersiapkan rencana perjalanan, membawa baju pantai, berolahraga secara teratur agar bisa tampak bagus saat difoto (alias, beach body) atau membeli buku yang bisa dibaca untuk membunuh waktu ketika leyeh-leyeh di pinggir pantai. 

Ekspektasi membentuk aksi, perilaku-perilaku yang diarahkan untuk mewujudkan apa yang kita harapkan. Namun, namanya juga hidup, seringkali segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Bukan begitu? 

Berapa banyak dari kita yang kecewa karena pantai yang kita kunjungi ternyata sebelas-dua belas dengan pantai berpasir hitam di Ancol atau ternyata, meskipun pantainya bersih tetapi hujan deras seharian sehingga kita tidak bisa tidur-tiduran di pinggir pantai? Rasa kecewa adalah perasaan yang tampaknya adalah akhir dari apa yang sebelumnya kita harapkan, kebahagiaan yang kita cita-citakan. "Yah kok gini?" adalah sebuah seruan yang tak asing saat menghadapi fakta semacam ini. 

Hidup kita pun rasanya dipenuhi oleh ekspektasi-ekspektasi semacam ini. Kita tidak hanya menaruh ekspektasi terhadap sesuatu atau orang lain tetapi secara sebaliknya, orang lain pun menaruh ekspektasi kepada kita sebagai seorang manusia. Berapa banyak juga dari kita yang diharapkan untuk segera menikah dan punya anak? Ada sebagian pula yang diharapkan untuk cepat-cepat lulus sehingga bisa membantu keuangan keluarga? Di bagian dunia sana, ada perempuan-perempuan yang diharapkan untuk bisa segera hamil agar meneruskan keturunan. 

Saya kemudian berpikir, apakah sebenarnya tujuan dari hidup ini adalah untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Apakah adalah hal yang salah jika saya tidak memenuhi ekspektasi dari orang tua, atasan atau kolega saya di kantor? 

Manage your and their expectation(s)
Salah satu yang saya pelajari ketika bekerja sebagai seorang banking lawyer adalah bagaimana manage expectation dari klien saya. Bagaimana menyampaikan berbagai kemungkinan serta risiko di awal ketimbang mendekati akhir. Saya kemudian berpikir, bukankah ini seharusnya juga dilakukan di kehidupan personal? 

Kita mungkin cenderung hidup dengan selalu bermain dan berpikir akan ekspektasi yang baik-baik saja. Padahal, ekspektasi ini sifatnya netral, bisa berakhir dengan bahagia tetapi juga bisa berakhir buruk. Sayangnya, sebagai manusia, adalah hal yang lumrah, kalau kita mengharapkan yang baik-baik dan membuang yang buruk. Padahal bukankah di dalam hidup ini, tidak selamanya kita mengalami hal yang baik? 

Managing expectation adalah hal yang sebenarnya bisa dilakukan saat akan menghadapi suatu persoalan hidup. Saya pun sedang mempelajari hal ini. Ketika saya merencanakan sesuatu (dan tidak melulu hanya soal jalan-jalan), saya pun harus memikirkan risikonya, pun demikian ketika orang lain menaruh harapannya ke saya. Saya harus dengan gamblang mengungkapkan segala risiko yang akan mereka hadapi yang mungkin saja, mereka akan tolak mentah-mentah. 

Paling tidak, ketika kita berusaha untuk mengatur ekspektasi, kita tahu bahwa saat rasa kecewa itu pasti ada, namun masih dapat diatasi.

Selamat hari Selasa! 




08: New York, catatan perjalanan


"Amerika itu jauh banget ya!"

Kalimat tersebut yang saya ucapkan di dalam hati saat pesawat ANA yang membawa saya dari Jakarta dengan transit di Tokyo melakukan final descent di John F. Kennedy International Airport, New York. Pantas, mengapa hubungan jarak jauh antara Rangga dan Cinta tidak bisa bertahan lama, Jakarta - New York itu jauh cyin!


Romantisme New York
Banyak orang berkata bahwa Paris itu nomor satu untuk urusan romantisme tetapi bagi saya, New York adalah salah satu kota romantis yang pernah saya kunjungi. Malam pertama saat saya tiba di New York, saya langsung jatuh cinta dengan kota ini. It is truly a city that never sleeps. Setiap sudutnya punya kenangan dan membentuk kenangan tersendiri, tidak hanya bagi penduduknya tetapi juga para traveler yang sibuk mengunjungi gang-gang serta terhimpit diantara gedung-gedung yang berlomba untuk menggapai langit. Mengunjungi New York haruslah dengan berjalan-jalan di malam hari di antara bar-bar hipster di kawasan Williamsburg, Brooklyn atau di kawasan East Village. Kegiatan ini  adalah hal yang patut dilakukan bagi para traveler yang ingin berjalan-jalan selayaknya orang lokal. 

Kopi, kopi dan kopi


Membayangkan menjadi seorang Samantha di serial Sex and The City atau berlari-lari membawa kopi Starbucks ala Andy di film The Devil Wears Prada mungkin adalah impian beberapa perempuan (dan mungkin saja, laki-laki). New York ini adalah surga bagi para pecinta kopi karena di kota ini, kita bisa menemukan puluhan kafe yang menyajikan biji kopi-biji kopi dari seluruh dunia. 

Saya banyak menghabiskan waktu dengan duduk diam di kafe-kafe di New York, di La Colombe misalnya, sebuah kafe yang terletak di kawasan East Village yang selalu penuh antriannya di pagi hari serta setelah makan siang. Kopi nampaknya adalah kebutuhan primer bagi para New Yorkers, dan saya pun tak mau kalah untuk larut di dalam aroma segelas kopi yang membantu saya mengalahkan rasa kantuk karena jet lag. 

Beberapa tempat minum kopi lain seperti Cafe Grumpy atau Blue Bottle Cafe juga patut untuk disimak dan tentu saja, lebih banyak orang lokalnya! 

Menjelajah Museum .... of Sex


Mengunjungi New York tanpa memasuki salah satu museumnya bagi saya itu percuma. Saya, yang termasuk awam untuk urusan seksualitas (halah!), akhirnya memilih untuk memasuki Museum of Sex, sebuah museum yang dikhususkan untuk membahas soal seksualitas secara eksplisit. Museum ini jauh dari kesan porno yang picisan tetapi membahas, bagaimana seksualitas adalah bagian dari kehidupan seorang manusia, dan bagaimana manusia itu mengekploitasinya serta membuat industri atas nama seksualitas.

Bagi saya, pengalaman ini menarik karena bukankah hampir setiap hari kita bersentuhan dengan hal-hal yang berbau seksualitas, yang tidak melulu menjadi persoalan alat kelamin. Memasuki museum ini sama dengan membuka cakrawala berpikir dan meruntuhkan anggapan bahwa seksualitas tidak hanya urusan film dan gambar porno saja!

Off the beaten path! 
New York, bagi saya, jauh lebih menarik untuk dijelajahi ketika kita hidup selayaknya orang lokal. Tinggal di apartemen ala AirBnB dibandingkan di hotel, mengunjungi museum-museum aneh, berjam-jam menghabiskan waktu di Central Park (yang adalah di New York dan bukan di kawasan Jakarta Barat) atau keluar masuk toko-toko produk lokal. Ini adalah pengalaman tersendiri dan memang butuh tenaga yang ekstra untuk bisa mengetahui kemana orang lokal pergi menghabiskan waktu sehari-hari atau bahkan berakhir pekan. Beberapa aplikasi di smartphone memang cukup berguna untuk hal ini seperti Foursquare atau Yelp!, dua aplikasi ini menjadi andalan saya ketika traveling dan berusaha untuk mengunjungi tempat-tempat yang tak banyak orang tahu.

New York telah sukses membuat saya melihat dunia di dalam konteks yang lebih luas dan paham bahwa di New York, purnama tidak terlihat dengan sempurna karena silaunya cahaya gedung pencakar langit yang tak pernah padam.

Selamat berjalan-jalan!


Saturday, July 30, 2016

07: Gambaran Diri



Saya membuka artikel ini dengan menampilkan foto saya sendiri. Alasannya sederhana, saya ini juga tergolong orang yang narsis dan hobi eksis. Menampilkan foto-foto terbaru di sosial media, mencoba untuk memberikan update terbaru tentang tempat nongkrong, kafe atau makanan yang paling hits di Jakarta atau hanya sekedar gaya. Saya tidak sadar bahwa saya mulai terjebak di dalam kondisi semacam ini, yang mana tidak hanya melanda Generasi Z tetapi juga Generasi Y, golongan menengah yang hobi eksis dan menjadikan sosial media sebagai salah satu platform untuk membentuk kehidupan atau bahkan masa depan. 

Saya senang sekali memperhatikan apa yang ada di sekeliling saya, termasuk untuk persoalan sosial media dan bagaimana sosial media tersebut mencoba memberikan gambaran diri yang berbeda dengan apa yang ada di dalam kenyataannya. Saya percaya bahwa ketika seseorang bisa menjadi apa saja di sosial media, orang yang bersangkutan pun memilih (dan bisa memilih) hal-hal apa saja yang ingin orang lain yang lain lihat di dalam kehidupan orang tersebut. Kita bisa memilih memberikan update bahwa kita naik penerbangan business class ke Singapura atau kita juga memilih untuk tidak meng-update bahwa kita terseok-seok untuk membayar tagihan kartu kredit bulanan. Post or not to post, ini mungkin termasuk salah satu pertimbangan tersulit abad ini, sama seperti memilih untuk bangun pagi atau menunda jam alarm lebih lama 10 menit dari jam bangun yang seharusnya. 

Saat saya traveling, saya banyak merenungnkan tentang diri saya sendiri. Saya mencoba setengah mati untuk kemudian menyusun identitas saya, atribut saya sebagai seorang pemuda berusia 28 tahun. Saya mengenal diri saya sendiri sebagai apa dan terkadang distorsi tentang banyaknya komentar di sosial media, likes di Instagram atau Facebook sukses membuat saya menjadi tidak memahami diri saya sendiri. Saya melakukan sesuatu tindakan ini sebenarnya demi eksis di sosial media, mendapatkan perhatian hanya di dalam bentuk hati di Path atau memang tindakan tersebut ternyata signifikan di dalam perjalanan kehidupan saya. 

Banyak orang mungkin terjebak dengan perhatian yang sifatnya semu ini sehingga mereka mendorong dan memaksa diri mereka untuk menjadi seseorang yang memang bukan menjadi pribadinya. Gambaran tentang diri menjadi buyar dan pada akhirnya, merasa kebingungan tentang siapa dirinya sebenarnya di dunia nyata dan bukan di sosial media. Akibatnya, pertanyaan "Siapa aku?" menjadi lebih sulit untuk dijawab di era semacam ini. 

Selamat berakhir pekan! 

Sunday, July 17, 2016

07: Flashpacking

Di zaman keemasan Generasi Y ini, rasa-rasanya kita sungguh akrab dengan sebuah kata yaitu "traveling". Hampir setiap akhir pekan atau di musim-musim liburan panjang, halaman sosial media kita akan penuh dengan foto traveling dari teman-teman kita atau bahkan diri kita sendiri. Traveling sudah merupakan kebutuhan selain sandang, pangan, dan papan buat geng kelas menengah di kota-kota besar Indonesia. Kalau boleh ditambahkan, sandang, pangan, papan dan INSTAGRAM! Tentu saja, masing-masing dari anggota geng kelas menengah ini punya gaya yang berbeda-beda saat sedang traveling. Ada yang hobi berburu tiket murah, ada yang suka ikut dengan open trip, beberapa lebih memilih untuk jalan-jalan sendirian atau yang terakhir, suka ber-flashpacking.

Flashpacking: the "higher level" of backpacking 
Kita lebih familiar dengan kata "backpacking" ketimbang kata "flashpacking" karena memang tren backpacking jauh lebih dahulu ada, yang dimulai dengan booming-nya low cost carrier dan hotel-hotel backpacker. Gaya serba minim ini membuat semua orang di Indonesia bisa melihat dunia dengan harga seminim mungkin, apalagi sejak 1 Januari 2009, Pemerintah Indonesia tidak lagi mengenakan bea fiskal untuk warga negara Indonesia yang pergi ke luar negeri dengan persyaratan harus memiliki NPWP dan kemudian dilanjutkan dengan pembebasan tanpa persyaratan NPWP di tahun 2011.

Namun, tidak semua orang rasanya cukup mau bersusah-susah dengan gaya jalan-jalan ala backpacker. Tidur di dormitory dibandingkan di hotel, bermalam di bandara, memilih jam keberangkatan yang tidak lazim atau membeli makanan di supermarket lokal dibandingkan di restoran setempat adalah hal-hal yang bisa dilakukan untuk menekan budget. Tindakan semacam ini bagi beberapa orang dianggap sesuatu hal yang kebangetan karena mau jalan-jalan kok harus susah-susah? Beberapa orang kemudian memilih untuk lebih santai terhadap budget jalan-jalan mereka namun dengan kondisi tidak semewah para turis dan untuk golongan menengah yang suka jalan-jalan ini ada istilahnya yaitu para flashpacker.

Flashpackers who conquer the world
Para flashpacker memiliki budget lebih untuk membeli tiket penerbangan maskapai premium dan menginap di hotel-hotel berbintang tiga atau empat atau yang sekarang sedang menjadi tren, penginapan AirBnB. Mereka bisa makan sekali atau dua kali di restoran-restoran mewah, merasakan bagaimana rasanya jadi kelas menengah  di kota yang bersangkutan atau ikut private tour yang harganya bisa dua kali lipat dibandingkan para backpacker. Di sisi lain, golongan ini memang bukan termasuk golongan ABG, namun rata-rata adalah karyawan kantoran yang memiliki jatah cuti yang terbatas (khusus untuk di Indonesia) dan ingin memaksimalkan waktu cuti mereka, termasuk menghemat waktu dengan menggunakan penerbangan premium.

Para flashpacker telah dianggap sebagai "the future of backpacker" karena kemampuan ekonominya dan rentang kemampuan mereka untuk membeli hal-hal dan menikmati kegiatan yang tidak bisa dinikmati oleh para backpacker dengan budget yang terbatas. Geng ini punya dunia ekonominya tersendiri dan menjual tujuan wisata ke geng ini adalah sesuatu hal yang menjanjikan, bagi beberapa agen travel. Beberapa agen perjalanan misalnya, sudah mulai memperluas paket-paket tur mereka untuk mengakomodasi kebutuhan para flashpacker yang mayoritas tidak mau bergabung di dalam kelompok tur (sebagaimana yang pernah populer di tahun 1990-an).  Namun memang, salah satu kecenderungan dengan jalan-jalan seperti seorang flashpacker ini adalah kecenderungannya untuk lebih terisolasi dengan masyarakat setempat dan untuk "shot and go" karena kurangnya waktu untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan tempat tujuan.

Menjadi seorang flashpacker atau backpacker rasa-rasanya sih adalah pilihan yang diambil ketika ingin jalan-jalan. Tidak bisa membandingkan gaya mana yang lebih benar dan menyenangkan karena pada prinsipnya, gaya jalan-jalan itu preferensi masing-masing orang. Sama halnya dengan preferensi destinasi, ada yang lebih senang ke pantai dan ada juga yang jauh lebih bahagia ketika menjelajah pasar lokal.

Jadi, kamu termasuk yang mana?


  

Friday, July 08, 2016

Kisah Sapporo



Gue mungkin adalah orang yang terlalu suka dengan masa lalu. Saat orang lain sibuk merencanakan masa depan, gue malah masih bermain-main dengan masa lalu gue. Malam itu, sambil menghabiskan rokok terakhir gue yang gue bawa dari Jakarta, gue memilih untuk jalan tanpa kejelasan di kota ini, menyusuri Odori Park sampai Susukino, red light district yang terkenal di Sapporo. Pikiran gue lagi kacau berat dan itu cuma gara-gara gue dengan bodohnya membuka akun Instagram mantan gue.

Mantan. Gue menghembuskan asap rokok ke udara sambil berharap kalau angin malam ini buruan reda. Gue akrab banget sama kata itu di dalam beberapa bulan terakhir. Berapa banyak sih dari kita yang masih hafal dengan jelas akun Instagram seseorang yang pernah membuat hidup kita berasa jungkir balik? Gue bahkan sama sekali nggak sanggup nge-block dia dari sosial media gue. Bagi gue, dia itu candu. 

Gue membiarkan dia yang unshare gue dari Path atau unfriend gue di Facebook. Gue mengakui kalau gue masih penasaran sama hidupnya. Gue bahkan diam-diam masih memaksa sahabat gue yang masih temenan sama dia di sosial media, untuk ngasih tahu gue, kalo mantan gue yang satu udah punya pacar baru apa nggak. Freak.

Gue menikmati dipermainkan dan bermain dengan masa lalu. Rasa sayang yang masih belum pupus, penyesalan yang tak pernah tersampaikan, dan kenangan yang masih membayang. Gue berdiri di pinggir jalan, menatap kosong Sapporo TV Tower yang mirip menara Eiffel berkilau karena cahayanya. Satu yang ada di pikiran gue, seharusnya gue ada di tempat ini sama mantan gue dan bukannya sendirian.

Gue sama dia sudah merencanakan perjalanan ini tiga bulan lalu dan ketika gue tahu bahwa hubungan gue berakhir, gue masih berharap kalau perempuan itu tiba-tiba muncul di pesawat dan duduk di sebelah gue. Harapan itu bahkan masih ada, sesaat sebelum pintu pesawat ditutup. Jadi cowok kok bego banget.

Layar ponsel gue berpendar di wajah gue sekarang, ada foto-foto mantan gue tampil di layar. Gue duduk di sebuah bar kecil di kawasan Susukino. Mendengarkan percakapan di dalam bahasa Jepang yang sama sekali nggak gue pahami. Ada rasa yang begitu kuat di dalam dada yang membuat gue untuk mengetik, “Aku kangen kamu” tapi gue tahu bahwa hal itu akan merusak segalanya. Jarak sudah direntang dan yang ada sekarang hanyalah penyesalan yang terlambat.

Gue memandang akun Instagramnya, sebuah foto baru tahu-tahu muncul. Foto ia dengan seorang pria dengan caption emoticon hati. Sederhana namun sanggup membakar. Gue merogoh kantung celana gue untuk mengambil bungkus rokok gue dan gue pun lupa, rokok gue sudah habis. Sama seperti gue lupa bahwa mantan adalah mantan dan masa lalu memang hanyalah untuk dilupakan.

Wednesday, May 11, 2016

05: Havana, mi vida!


Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan berada satu meja dengan Jesus dan Gloria, sepasang suami istri yang bahasa Inggrisnya pas-pasan. Pasangan ini menawarkan penginapan di rumah mereka atau casa particulares bagi para pengelana macam saya yang ingin merasakan keramahan lokal yang jauh dari kemewahan ala hotel.  

“Cafe?” Gloria bertanya dengan ramah dan saya berpikir bahwa saya akan diajak untuk nongkrong di kafe. Ah, betapa bodohnya saya, si anak Jakarta! Gloria  ternyata justru menawarkan secangkir kopi arabika khas Kuba dengan kue kering di dapurnya. Jesus, suaminya yang baru pulang dari pasar dan membawa sekeranjang penuh telur ayam langsung menyambut saya, “Buenas tardes!” atau “Selamat siang!” di dalam bahasa Spanyol.

Gloria terus bertanya kepada saya di dalam bahasa Spanyol sementara Jesus, suaminya tampak bingung menterjemahkan di dalam bahasa Inggrisnya yang juga terbatas. Kemampuan bahasa Spanyol saya yang tidak bagus-bagus amat, membuat saya terpaksa harus menebak sekaligus mencoba mencari padanan kata bahasa Spanyol dari kata-kata versi bahasa Inggris. Semoga tidak lost in translation, itu yang saya harapkan. Nyatanya, secangkir kopi hitam meruntuhkan keterbatasan bahasa dan saya larut dalam keramahan khas keluarga Kuba.

Gloria adalah tipikal seorang ibu dari golongan menengah yang tinggal di Havana. Gemar mengenakan tank top atau terusan tanpa lengan bermotif bunga-bunga. Ia menghabiskan waktunya,  selain mengelola casa particulares atau penginapan rumahan miliknya, dengan entah berbicara di telepon dengan temannya, duduk di depan rumah untuk (lagi-lagi) mengobrol dengan tetangganya atau duduk di depan televisi untuk menonton stasiun televisi milik pemerintah. Sesekali ia meminum rhum, sebutan orang lokal untuk alkohol, bermerek Havana Club, merek lokal yang terkenal seantero dunia, di sore menjelang malam hari.

Selamat datang di Havana! Ibukota dari Kuba, sebuah negara yang masih terkena sanksi embargo Amerika Serikat meskipun pemerintahan Obama sedang mencoba melonggarkan sanksinya. Kota ini menawarkan pesonanya sendiri di tengah keterbatasannya dan tentu saja, nothing compares to Havana. Kota ini masih dipenuhi dengan gerai telepon umum yang masih tersebar dan digunakan di sudut kota, mobil-mobil cadillac tua warna-warni yang lalu-lalang di jalan-jalan raya serta suara musik latin yang menyelinap dari balik jendela-jendela rumah bertingkat di siang hari.

Saya pun tak punya bayangan banyak untuk menikmati segenggam kemewahan yang biasa saya dapatkan di pusat-pusat perbelanjaan ibukota. Di Havana, kemewahan hanya kita bisa dapatkan di hotel-hotel yang dikelola oleh pemerintah seperti Hotel Nacional atau Hotel Parque Central. Sisanya? Kita akan berhadapan dengan kondisi masyarakat menengah ke bawah di Havana.

Saya berulang kali tersesat di jalan-jalan kota ini dan berada di antara gedung-gedung berarsitektur kolonial khas Spanyol namun tak terawat dan sibuk mengamati apa yang dilakukan penduduk kota di pinggir jalan. Saya menemukan bahwa masyarakatnya jauh dari kesan negara sosialis, tak ada wajah muram dan penderitaan yang tampak dari keseharian mereka. Terjerat oleh kemampuan ekonomi yang terbatas adalah makanan sehari-hari dan bersiap pulalah dengan cita rasa masakan yang cenderung hambar meskipun sudah banyak restoran internasional di kota ini dan dengan catatan, harganya hanya sesuai untuk para turis atau golongan menengah ke atas di Havana.

Duduk diam di Parque Central alias Central Park-nya Havana membuat saya paham akan kondisi perekonomian masyarakat Kuba pada umumnya. Para pria lokal, dengan pesona macho dan badan tegapnya berusaha untuk menarik para turis untuk menggunakan jasa taksi, membeli alkohol atau cerutu. Ketika berada di bar pun, saat musik salsa atau rhumba dimainkan, saya dapat melihat ada para gadis yang berdiri di luar bar, menunggu untuk ditarik masuk oleh para turis pria yang tergoda oleh senyuman atau kecupan mereka dari kejauhan.

Revolusi yang terus berjalan dan dipertahankan. Pemerintah Castro menguasai segalanya. Pendapat ini adalah pendapat umum di masyarakat Kuba dan suka atau tidak suka, uang mengalir ke kantong-kantong pejabat pemerintah. Tulisan propaganda dan foto Paman Fidel atau Che Guevara menghiasi dinding-dinding kota, seolah mengingatkan bahwa masyarakat harus selalu ingat revolusi yang diperjuangkan beberapa dekade lalu sekaligus menekankan ketertundukan pada aturan pemerintah. Tak ada demokrasi versi negara barat di tempat ini. Satu pemimpin. Satu partai. Satu suara.

Ciri khas negara sosialis sangat terlihat di kota ini yaitu mengantri. Jika di Jakarta saya bisa dengan bebasnya masuk ke toko maka di Havana, jangan harap demikian. Mengantri adalah bagian dari keseharian masyarakat Havana atau bahkan Kuba. Saya harus mengantri dengan warga lokal untuk bisa masuk ke sebuah toko dan itu pun, saya tidak bebas memegang barang yang saya inginkan, saya harus menunjuk barang yang saya inginkan di konter. Selain itu, berdasarkan percakapan saya dengan Angela, seorang solo traveler dari Spanyol, ia berkata bahwa setiap warga Kuba sudah punya jatahnya masing-masing, termasuk untuk urusan membeli ayam di pasar. Tidak ada perbedaan golongan kelas di sini meskipun pemerintah memberikan perlakuan khusus bagi para dokter dan seniman. Semua diperlakukan sama rasa dan sama rata.

Di sisi lain, pemerintahan Castro pun mematok harga yang lumayan tinggi untuk para turis. Saya bisa membayar empat kali lipat dari harga lokal. Di Kuba berlaku dua mata uang, Cuban Peso atau Moneda Nacional yang biasa disingkat CUP atau MN dan Convertible Cuban Peso atau CUC. Pemerintah Kuba mematok 1 CUC setara dengan sekitar 1 Euro dan mata uang ini yang dipergunakan oleh para turis untuk membayar segala sesuatunya. Masyarakat lokal menggunakan CUP/MN yang nilainya 1/4 dari CUP. Sebagai contoh, saya membeli satu botol harga air mineral sekitar 1 CUC (alias LIMA BELAS RIBU RUPIAH!!) dan seorang pemuda Kuba bisa mendapatkan produk yang sama dengan harga 25 CUP. Kesimpulannya: jalan-jalan di Kuba, buat orang Indonesia, mahal banget!

Saya kurang tertarik dengan destinasi wisata alam yang ditawarkan di kota-kota sekitar Havana. Bagi saya, pemandangan alam Indonesia jauh lebih bagus pemandangan alamnya. Tujuan utama ke tempat ini adalah memahami masyarakat, budaya serta bagaimana revolusi Castro terus bertahan sampai detik ini.

Saya tidak tahu, entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi. Namun, setelah dibukanya akses internet dengan keberadaan wi-fi berbayar di taman-taman kota yang disediakan oleh satu-satunya operator telekomunikasi di Kuba (yang juga milik pemerintah), ETECSA, maka bisa saja masyarakat Kuba akan terbuka dengan pemikiran ala barat, terutama kaum mudanya yang mulai gemar selfie dan membuka Facebook.

Berkelana di Havana adalah salah satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan di perjalanan hidup saya. Menikmati secangkir kopi di rumah Gloria sampai berdansa di Havana Vieja, pengalaman luar biasa di negara Paman Castro. Lima hari cukuplah buat saya mengelilingi Havana sekaligus berkunjung ke Trinidad dan saya ingin segera pulang, kembali ke alam demokrasi ala Indonesia.

Hasta luego, mi amigo!
Lewi Aga Basoeki