Pages

Sunday, November 27, 2016

11: Tetaplah Sumba


Pernahkah kita jatuh cinta dengan suatu tempat seketika saat kita menginjakkan kaki di tempat tersebut? Saya pernah dan terlalu sering merasakannya ketika saya berkelana ke daerah-daerah di Indonesia. 

Ada perasaan rindu yang membuncah di dada yang seketika timbul saat memulai perjalanan dan rasa pilu yang bertalu langsung singgah di dalam hati saat selesai berkelana. Negeri ini terlalu luas untuk dijelajahi dan teramat menyenangkan untuk disinggahi. Terakhir kali saya merasakan debaran rasa itu ketika saya berada di tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Dataran gersang yang mencengangkan, begitu saya menyebutnya tentang tanah ini. Pemandangan yang seolah tidak bersahabat namun sebenarnya sungguh menggetarkan perasaan siapapun yang mengunjungi tanah ini.



Kontur tanahnya yang berbeda dengan Pulau Jawa atau Pulau Sumatera, membuat Sumba begitu menawan dan memikat hati. Perbukitan hijau di musim hujan yang berubah menjadi gersang di kala musim kemarau, hamparan sabana serta stepa yang dipenuhi oleh pohon-pohon yang gemar meranggas serta hamparan laut lepas kebiruan. Tidak banyak tempat di Indonesia yang menyajikan pemandangan selayaknya di Afrika serta tropis kehijauan dan tanah Sumba memberikan segalanya. Lengkap!


Hormatilah orangtuamu supaya panjang umurmu
Menghormati ayah dan ibu rasa-rasanya adalah ajaran universal yang dianut oleh semua bangsa di dunia. Namun, ajaran ini seringkali tidak diaplikasikan sedemikian rupa di dalam kehidupan sehari-hari, lain halnya dengan di Sumba. Sepanjang jalan menuju penginapan, saya masih bisa melihat peninggalan zaman megalitik berdiri megah di halaman rumah orang Sumba yaitu kubur besar nan megah. Kubur besar tersebut adalah sebuah kubur ayah, ibu atau keduanya dari pemilik rumah tersebut. Di dalamnya juga bisa ditempati anak-anak yang belum berkeluarga namun sudah meninggal. Peti mati hanya tinggal dimasukkan saja ke dalam kubur tersebut.

Dengan penasaran, saya mencoba untuk bertanya kepada Pak Nuel, supir yang membawa saya berkeliling Sumba, tentang alasan mengapa kuburan ada di halaman rumah. Jawaban sederhana namun sarat makna terlontar dari Pak Nuel, katanya agar anak-anak atau pasangan sang almarhum masih bisa tinggal bersama orang yang dikasihinya, seolah mereka masih hidup. Cinta yang tidak putus meskipun maut memisahkan, begitu katanya. Kubur-kubur besar tersebut dirawat sedemikian rupa bahkan bisa direnovasi seperti rumah sendiri saat keluarga yang ditinggalkan memiliki rezeki dan kemampuan ekonominya meningkat. Tidak jarang kalau kita akan melihat arsitektur kuburan tersebut tersebut jauh lebih megah dibandingkan rumah keluarga yang ditinggalkan.


Desa Adat
Terlalu banyak desa adat yang bisa dikunjungi di Sumba, salah satunya adalah Desa Adat Tarung di Kabupaten Sumba Barat. Letaknya di perbukitan dan warga desa yang ramah, membuat desa ini teramat menyenangkan untuk dikunjungi. Mengobrol dengan warga desa setempat dan duduk di depan rumah sambil mengamati puluhan tanduk kerbau tersusun rapi di dinding rumah tradisional adalah pengalaman tersendiri bagi saya. Sewaktu saya berkunjung ke desa ini, sedang dilakukan ritual adat dan dari beberapa rumah, terdengar suara perempuan bersahut-sahutan mendendangkan sebuah lagu dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Satu per satu mereka bernyanyi sambil bergerak menuju ke salah satu pekarangan rumah. Sayang, saya tidak diperbolehkan mendekat dan hanya bisa bergidik kagum.


Laguna atau Danau?
Banyak orang menyebut tempat ini sebagai Danau Weekuri tetapi sebenarnya, tempat ini lebih cocok disebut sebagai Laguna Weekuri. Merasakan jernihnya air laut yang terperangkap di dinding-dinding karang adalah kegiatan utama di laguna yang letaknya di pelosok Kabupaten Sumba Barat. Pemerintah setempat mulai membuka akses dan mempercantik kawasan ini dengan harapan ke depannya akan lebih mudah diakses oleh warga lokal serta wisatawan. Suara deburan ombak yang menghantam karang yang berpadu dengan desiran angin sepoi-sepoi di balik rerumputan menjadi nuansa danau, maaf, laguna ini. Saya sungguh kagum dan selalu tidak sabar untuk berenang di tempat ini.


Terpana di sabana
Terakhir kali saya mendengar kata “sabana” dan “stepa” adalah ketika saya belajar geografi saat duduk di sekolah dasar. Pertama kali saya melihat sabana adalah ketika berkunjung ke Pulau Flores beberapa tahuns ilam dan saya kembali merasakannya lagi saat saya menyusuri Kabupaten Sumba Timur, menuju Waingapu. Kabupaten Sumba Timur ini terkenal dengan pemandangan sabana serta stepa yang luar biasa indah, belum lagi ketika menjelang senja di masa musim hujan, kilau cahaya matahari dan kabut nan mistis yang menyelimuti perbukitan di balik sabana membuat saya selalu terdiam dalam keheningan. Obrolan dengan dua rekan perjalanan saya selalu terhenti dan kami pun sibuk mengamati alam Sumba yang begitu menariknya, merekam dalam angan dan juga gawai kami masing-masing, berharap suatu saat akan kembali.

Melaju sedikit keluar dari Kota Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur, tepatnya di Puru Kambera, saya juga menangkap senja di sana. Rasanya, tempat ini merupakan salah satu tempat di Indonesia dengan akses yang memadai untuk bisa melihat laut luas dengan perbatasan sabana. Pendaran cahaya senja serta ombak yang bergulung-gulung membuat sore itu semakin romantis. Saya menghabiskan waktu yang lumayan lama di tempat ini, sekadar melihat sekeliling dan mencoba mengamati pohon tanpa daun yang tersebar di seluruh penjuru hamparan padang rumput kering.


The Gate of Sumba
Pantai Bhawana namanya dan setengah mati saya harus menuruni tebing yang lumayan curam dengan akses yang terbatas. Menjejakkan kaki dari satu batu ke batu lainnya hanya untuk melihat sebuah tebing berlubang seperti pintu besar terbuka dan pasir putih gemerlap. Lelah namunselalu ada harga yang harus dibayar untuk memandangi alam semacam ini. Jangan pernah menggunakan sendal jepit atau sepatu cantik untuk pergi ke bawah karena curamnya akses menuju ke bawah. Karena sulitnya menuju ke tempat ini, hampir dapat dipastikan kalau tidak ada pengunjung lain selain saya dan satu rombongan untuk foto pre-wedding yang mana luar biasa niat sekali menggunakan gaun untuk bisa sampai ke bawah.


Susah di Sumba
Sumba ini adalah destinasi liburan yang tidak sepopuler Bali atau bahkan Labuan Bajo karena aksesnya susah dan daerahnya masih berkembang. Bagi saya, hal ini justru bagus karena daerah ini tidak terlalu komersil dan menyajikan petualangannya sendiri. Sayangnya, sudah banyak tanah-tanah yang dibeli oleh pihak asing dengan perjanjian dengan penduduk lokal dan dapat dipastikan, ke depannya akan banyak penginapan mewah dan tempat-tempat wisata yang mengubah struktur pemandangan alam. Entah mengapa, saya tidak berharap hal tersebut akan terjadi dan bersusah-payah untuk berjalan-jalan di Sumba ini adalah hal yang justru tantangan yang terasa menyenangkan.

Saya jatuh cinta dengan Sumba dan selalu ada harapan untuk kembali, suatu saat nanti.

Selamat hari Minggu!
Lewi Aga Basoeki

Saturday, November 19, 2016

11: Searching for Happiness


Sebuah pertanyaan sederhana mengemuka saat saya mengobrol dengan seorang teman saya di sebuah kafe, "Jadi source of happiness lo apa?" dan seketika itu pula saya melakukan pencarian di dalam puluhan ribu arsip ingatan saya untuk menjawab pertanyaan teman saya itu tadi. Hal apa di dalam hidup ini yang membuat saya bahagia lahir dan batin. 

Bagi saya, bahagia itu ada dua jenis. Pertama, bahagia yang sifatnya sementara. Jenis yang seperti ini sangat mudah ditemui di dalam kehidupan sehari-hari. Kesempatan untuk bisa bertemu dengan sahabat di akhir pekan misalnya, ini adalah contoh dari kebahagiaan yang sifatnya tak selamanya, berlangsung sekali saja dan perlu diulang lagi supaya kita bisa merasa bahagia. Jenis yang kedua adalah bahagia yang sifatnya kekal atau saya lebih suka menyebutnya dengan istilah joy atau gembira. Bahagia yang sifatnya kekal ini justru yang tidak bergantung pada keadaan, di dalam keadaan apapun maka rasa joy atau gembira itu tetap ada.

Kalau ditanya kembali mengenai apa yang membuat setiap orang bahagia dan di dalam konteks ini adalah bahagia yang sifatnya sementara, pasti jawabannya berbeda-beda. Beberapa orang kemudian memilih untuk jalan-jalan di akhir pekan sebagai salah satu alasan supaya bisa merasa bahagia atau sebagian orang, memilih untuk menghabiskan uangnya untuk membeli barang yang mereka sukai atau idam-idamkan agar juga merasa bahagia. 

Namun, saya percaya teori yang dikemukakan oleh Adam Smith yaitu teori the law of diminishing return. Teori ekonomi ini memaparkan bahwa apabila ada salah satu faktor produksi yang ditingkatkan sementara faktor lainnya tetap konstan, maka hasil dari unit tersebut akan variabel faktor tersebut akan pada akhirnya menurun. Istilah kerennya adalah the gain is not worth the pain. Bukankah ini yang kemudian sering terjadi di dalam hidup kita? Kita terus memaksa diri kita untuk melakukan hal-hal yang kita yang pada awalnya memang membuat kita bahagia namun lama-kelamaan, rasa bahagia yang kita alami tidak sama dengan apa yang kita alami pertama kali. Terjadi degradasi kebahagiaan yang membuat kita mencari sumber kebahagiaan yang lain lagi. Formulasi kita tentang bahagia akan berubah. 

Jadi, saya harus mulai berhati-hati untuk tidak melakukan abusive of my happiness dan tidak menggantungkan hidup saya hanya untuk mencari kebahagiaan yang sifatnya sementara. Saya perlu untuk mencari tahu, apa yang membuat saya merasa penuh atau content dengan kegembiraan, ini jauh lebih penting dari bahagia yang seperti uap dan sifatnya fana. 

Selamat berakhir pekan! 
Lewi Aga Basoeki





Friday, October 14, 2016

10: Kenapa kau begitu egois, hati?


Saya memulai dengan suatu premis bahwa merupakan suatu hal yang manusiawi kalau seorang manusia itu egois, memikirkan dirinya sendiri dan cenderung mementingkan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk melakukan segala tindakan dan perbuatan dengan tujuan menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Mengapa? Karena manusia itu natur dasarnya adalah egois.

Dan ini pun berlaku untuk urusan ... mencintai orang lain

Kita mencintai di dalam keegoisan atau terkadang, kita mencintai orang lain hanya untuk terjebak di dalam pemahaman: saya mencintai untuk menyenangkan diri saya sendiri. Lebih jauh lagi, pengorbanan untuk orang yang kita "cintai" mungkin bisa saja didasarkan pada prinsip untung-rugi atau apakah pengorbanan tersebut sebanding dengan apa yang akan dapatkan. Saat orang yang kita cintai itu tidak memberikan apa yang kita harapkan (dan seringkali kita sebut dengan ekspektasi), kita menjadi berpikir tentang apa yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai tersebut. Bukan begitu? 

Hati ini begitu egoisnya sehingga kita tidak mau melepaskan apa yang seharusnya kita lepaskan dan memilih untuk mempertahankan hanya untuk membuat kita senang, meskipun hanya sementara dan kita tahu dengan sadar bahwa apa yang kita pertahankan itu justru akan menyakitkan orang lain, dan untuk hal ini, kita lebih memilih untuk tidak peduli. 

Saya hari ini bertanya kepada salah satu sahabat saya pada saat jam makan siang, "Kenapa sih meskipun kita udah punya pasangan, tapi kita flirty-flirty sama yang lain? Kenapa kita nggak bisa berkomitmen sama satu orang?" Jawaban atas pertanyaan saya itu kemudian diutarakan oleh sahabat saya, "Kita ini takut disakiti sih, Le." 

Ini juga merupakan suatu persoalan ketika berpacaran atau terlibat di dalam suatu komitmen dengan orang yang kita framing dengan kata "pasangan". Persoalan ini adalah persoalan klasik ketika kita berpasangan. Kita punya orang kedua, orang ketiga, orang keempat atau bahkan orang kesepuluh untuk memenuhi apa yang menjadi hasrat atau keinginan kita, ekspektasi yang tidak terwujud ketika kita berpasangan dengan sang orang pertama. Ini salah? Bisa jadi. 

Kita mencari opsi-opsi di luar pilihan pertama yang kita buat, kita membuat justifikasi dan menyatakan seolah-olah adalah hal yang wajar kalau kita melakukan hal tersebut karena sang orang pertama tidak memenuhi satu kebutuhan yang seharusnya dipenuhi dan menjadi bagian di dalam ekspektasi. Kita pun menjadi melupakan komitmen yang pernah kita buat dan mencari celah agar kita tetap berpasangan namun bisa menikmati hal-hal yang tidak dipenuhi di dalam framing berpasangan tersebut. Ini namanya perselingkuhan.

"Ini 'kan baru masa pacaran.", "Hubungan kayak gini memang nggak akan ada ujungnya sih!", "Paling bentar lagi putus kok!" adalah alasan atau lebih spesifik, justifikasi yang kita buat untuk melegalkan pelanggaran atas komitmen yang kita buat. Iya, kita egois. Kenapa kita berdamai dengan diri sendiri dan mencoba untuk hidup dengan pasangan yang tidak bisa memenuhi kepentingan kita secara seratus persen? Kenapa kita lebih memilih jajan di luar dan tidak mau menikmati masakan di rumah dengan alasan "Udah kenyang!"? 

Saat kita masih egois maka kita tidak bisa mencintai sepenuh hati karena hubungan hanyalah berpusat pada menyenangkan diri sendiri dan bukan pasangan. Ini pun juga berlaku di dalam hubungan pertemanan. 

Untuk hal ini, saya tidak bisa mencari pemecahan masalahnya karena saya pun masih egois. 

Hore, besok Jumat! 

Saturday, October 08, 2016

10: Changing Constantly


"I cannot create a miracle only for one night."

Kalimat yang baru saja diutarakan oleh seorang teman di pagi ini membuat pikiran saya tergelitik. Ternyata kebiasaan baru yang saya lakukan setiap bulan ini ada gunanya yaitu mengajak orang untuk minum kopi di hari Sabtu pagi selama 1 atau 2 jam, mendengarkan mereka bercerita tentang apa yang mereka kerjakan di dalam hidup dan mengamini bahwa setiap orang punya bagiannya masing-masing di dalam kehidupan ini. 

Saya sekejap menyadari bahwa tema besar percakapan pagi ini adalah tentang perubahan, suatu proses yang kita alami hampir setiap hari dan lebih spesifik, bagaimana kelas menengah ke atas ini membuat perubahan di dalam kehidupan sehari-hari untuk Indonesia. Saya hidup di sebuah pemahaman yang mana  segala sesuatunya kalau bisa dilakukan secara semalam, maka untuk ada melakukannya dalam waktu dua malam? Kalau bisa sukses dengan cara cepat, buat apa bersusah-susah dahulu? Kalau bisa mengubah dunia dengan hal-hal besar, kenapa harus melakukan hal-hal kecil di dalam waktu yang lama?

Saya telah melewati masa-masa dimana rekan-rekan seangkatan saya melakukan banyak hal untuk Indonesia, entah ada yang mengikuti Indonesia Mengajar, menjadi diplomat, aktif di kegiatan Kelas Inspirasi dan berbagai aksi "heroik" atau "kepahlawanan" lainnya di dalam konteks masyarakat perkotaan. Gerakan kerelawanan ini adalah sesuatu yang masih menjadi trend di dalam beberapa tahun terakhir. Anak-anak muda, terutama generasi Millenial, berusaha untuk melakukan perubahan untuk bangsa ini. 

Saya pun seringkali terjebak di dalam pemahaman bahwa apa yang saya lakukan sehari-hari, di dalam pekerjaan saya misalnya, tidak memiliki dampak untuk bangsa ini. Pekerjaan saya di dunia finansial rasa-rasanya lebih dekat dengan kaum kapitalis dan neoliberalis, seperti apa yang digaung-gaungkan oleh pemuda-pemudi dari haluan kiri. Saya juga menganggap bahwa perubahan besar yang berdampak langsung kepada bangsa itu punya kredit dan tempat yang jauh lebih mulia dibandingkan perubahan kecil yang dampaknya tidak besar atau secara kasat mata, tidak bisa dilihat.

Apakah benar demikian?

Saya terperangkap di dalam suatu bingkai pemahaman bahwa untuk mengubah dunia harus melakukan hal besar, berdampak langsung dan terpublikasi secara luas. Saya mendadak amnesia kalau ada orang-orang yang memang bisa melakukan perubahan bagi bangsa hanya dengan satu langkah tetapi ada juga yang melakukan perubahan bagi bangsa dengan melakukan sepuluh langkah. Satu hal yang dapat dipastikan, kita semua melakukan perubahan bagi bangsa ini. 

Seseorang yang bekerja di sebuah korporasi sehingga anaknya bisa sekolah di sekolah dengan kualitas yang baik dan mengajarkan budi pekerti, apakah orang ini tidak melakukan perubahan bagi bangsa jika dibandingkan seseorang yang menjadi dokter di pedalaman? Saya rasa, ukuran dampak besar dan kecil seharusnya tidak lagi relevan karena saya percaya bahwa setiap orang ada bagiannya masing-masing di bangsa ini karena tidak semua orang bisa menjadi presiden di dalam waktu yang bersamaan, yang bisa adalah menjadi presiden taxi. Oke, yang terakhir ini lumayan ngarang tapi ini memang benar. Tidak semua orang dipercayakan kewenangan yang besar dan kalau kita hanya menerima kewenangan yang kecil, membuat perubahan kecil di kantor, ya lakukanlah hal tersebut dengan maksimal.

Pagi ini saya diingatkan akan satu hal saat saya melakukan pekerjaan yaitu saya tidak boleh hidup di dalam keegoisan. Saya tidak boleh hidup untuk diri saya sendiri, saya harus berguna, paling tidak untuk orang lain sebelum kita berbicara tentang apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa ini.  

Selamat melakukan perubahan!

Monday, October 03, 2016

10: Mungkin Kita Yang Tidak Sabaran?


"Saat lo memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang, kadang-kadang, lo akan merasa bahwa kualitas orang tersebut akan makin terlihat seiring berjalannya waktu. Di awal mungkin nggak begitu kelihatan, makin lama justru lo akan berpikir bahwa orang ini semakin lama kelihatan kualitas dan sisi baiknya."

Kira-kira begitulah percakapan yang diungkapkan oleh seorang teman saya sambil memandang Jakarta dari sebuah rooftop bar di Jakarta. Saya terdiam sejenak dan berusaha untuk mencerna, tak lama kemudian, saya mengamini bahwa apa yang teman saya katakan ini memang ada benarnya.

Saya pun mulai ragu dengan cara saya memandang orang yang saya suka atau orang yang suka dengan saya. Apakah saya memandang orang tersebut hanya secara sebagian dan tak sabaran untuk menunggu kualitas sebenarnya orang tersebut seiring berjalannya dengan waktu?

Lebih jauh, saya jatuh cinta atau katakanlah, saya bisa suka dengan seseorang, atas dasar apa? Apakah atas dasar penampilan, latar belakang, pendidikan atau hal yang sungguh dangkal, permasalahan dia nongkrong dimana di akhir minggu? Saya seringkali tidak membuka kesempatan untuk jatuh cinta dengan orang-orang yang bukan berada di dalam checklist yang saya buat. Ada pintu yang tertutup rapat saat syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, sialnya, kadang saya menerapkan syarat tersebut secara mutlak, tanpa ampun. 

Saya sering lupa bahwa sebenarnya kualitas seseorang tidak hanya dapat dilihat saat pertemuan pertama, kedua, ketiga, keempat bahkan sampai berkali-kali bertemu sekalipun. Saya pun juga lupa bahwa hidup pun fluktuatif. Seseorang yang dahulu pernah mengalami obesitas, bisa di dalam hitungan bulan, berubah menjadi atletis dan mendadak menjadi artis Instagram. Orang yang dahulu tidak punya pekerjaan, dalam hitungan tahun, karirnya melesat bak roket. Saya melupakan unsur "perubahan" tersebut ketika membuat ekuasi saya terhadap seseorang yang saya jadikan sebagai pacar, pasangan atau apapun itu namanya. 

Saya mencoba untuk melihat kembali daftar kriteria saya dan kemudian berpikir ulang, berusaha memaknai apa yang sebenarnya yang cari dan kualitas seperti apa yang saya harapkan dari seorang pasangan. Jangan-jangan, saya tidak pernah menemukan yang sesuai kriteria karena saya tidak membuka kesempatan sebanyak-banyaknya? Saat orang tersebut tidak memenuhi kriteria A, B ataupun C, saya langsung menolak mentah-mentah dia masuk ke dalam lingkaran hidup saya yang lebih dalam. 

Bertemu dengan banyak orang, menjalani coffee talk dari orang yang berbeda, menyadarkan saya bahwa sebenarnya untuk tahu kualitas dari hidup dan diri seseorang itu tidak hanya dapat dilakukan dalam semalam atau bahkan ketika dalam jangka waktu satu atau dua tahun pacaran. Butuh kesabaran di dalam mengasah intan. 

Sayangnya, saya yang mungkin  seringkali tidak sabaran.

Selamat malam! 

Friday, September 16, 2016

09: Saya Rindu New York


Saya tidak setampan Rangga atau secantik Cinta, tetapi saya cukup memahami mengapa melihat purnama di New York itu jauh lebih romantis ketimbang melihat purnama di Kebon Kacang. Kalau ada sebuah pertanyaan, "Kota apa yang lo banget sih, Ga?" maka saya memilih untuk menjawab, "New York!" 

Keriuhan yang dirindukan
New York di dalam segala kemegahan gedung-gedungnya adalah salah satu kota di dunia yang tak boleh dilewatkan untuk dikunjungi. Kita akan dibuat terpesona saat menyebrang jalan dan mengetahui bahwa kita sedang terhimpit oleh gedung-gedung pencakar langit yang lantainya tak hanya 20 tetapi bisa 40 atau bahkan 50 lantai. Belum lagi saat momen menjelang matahari tenggelam, saat sinar matahari berpendar-pendar dan berusaha menyelinap di sela-sela gedung-gedung penggapai langit New York. 


Kota ini terlalu riuh tetapi juga di sisi lain, sudut-sudutnya terlalu romantis untuk dilewatkan. Menggenggam paper cup berisikan kopi dari La Colombe Torrefaction, sebuah kafe minum kopi hipster di kawasan SOHO, New York, sembari berjalan-jalan menikmati suasana, bagi saya, adalah hal yang tak bisa dilewatkan begitu saja. Memandangi puluhan orang dari berbagai belahan dunia lalu-lalang di jalan-jalan utama big apple ini adalah suatu keindahan tersendiri. Suatu keriuhan yang dirindukan.  

New York bukan hanya sekadar menjadi surga belanja tetapi ada banyak kisah cinta yang terukir di sana. Lebih dari sekadar kisah Cinta mengejar Rangga atau Rangga yang merindukan Cinta, Perjalanan lebih dari 24 jam dari Jakarta membuat kita berpikir bahwa dunia ini begitu luas untuk dijelajahi dan pun demikian, pikiran dan rasa rindu kita pun dapat sedemikian mudahnya terlontar ke Indonesia. Sangat mudah untuk menjadi melankolis di tempat ini karena rasa kangen yang menilisik kalbu begitu kita mengunjungi American Museum of Natural History atau Central Park.

Romantisme Brooklyn Bridge
Kekaguman akan kota yang dengan gampangnya mengukir kenangan ini pun dapat mencapai puncaknya saat memandangi New York dari Brooklyn Bridge. Jembatan yang setiap hari dilalui oleh ribuan orang untuk menyebrang dari Brooklyn ke New York. Terkadang, ada momen-momen yang terlalu romantis sampai kita lupa mengabadikannya dan ini pun bisa terjadi di jembatan ini. Terbuai akan suasana sampai lupa mengambil gambar atau meng-update status adalah suatu pertanda baik bahwa kita menikmati perjalanan sebagaimana adanya. 

Bagian terbaik perjalanan saya adalah ketika saya menaiki Uber dari apartemen yang saya sewa di kawasan Brooklyn ke Manhattan saat malam pertama saya di New York. Melihat cahaya kota New York dari kejauhan membuat saya teringat sebuah lirik lagu Jay-Z yang bunyinya, "In New York, concrete jungle where dreams are made of! There's nothing you'cant do. Now you're in New York, these streets will make you feel brand new, big lights will inspire you." Saya pun tersenyum manis, sendirian di dalam Uber, menyadari bahwa kota ini begitu ajaibnya dan ini adalah salah satu perjalanan terbaik saya sepanjang saya berpergian. 

Tanpa Ambisi
Melangkah di New York haruslah tanpa ambisi ingin ke banyak tempat dalam satu hari. Mengenali kemampuan diri sendiri di dalam menjelajah bagian dari kota ini sangat penting adanya. Bagi saya, duduk-duduk di kafe sambil melatih kemampuan bahasa Inggris dengan mendengarkan percakapan orang di sekitar saya sudah cukup membahagiakan. Datang hanya ke satu atau dua museum di dalam satu hari juga merupakan aktivitas yang masih wajar. Belanja? Ini bukan kegiatan favorit saya dan justru saya memilih belanja di hari terakhir ketika berada di New York, mencegah kalau bagasi saya tidak overweight

New York sukses membuat saya mengukir kenangan tersendiri dan sampai sekarang, saya masih ingat betapa berharganya kenangan berjalan-jalan di New York. Sama seperti Cinta yang merindukan Rangga maka mungkin seperti itulah juga saya merindukan New York. 

Selamat menjelang akhir pekan! 

Wednesday, September 14, 2016

09: Dengan Senang Hati


Saya biasanya naik cattle class ketika berpergian menggunakan pesawat, alias memilih untuk membeli tiket kelas ekonomi atau malah super ekonomi untuk rute-rute tertentu. Berpergian dengan menggunakan kelas bisnis tidak pernah masuk ke dalam rencana keuangan saya ketika saya berjalan-jalan. Namun, saya berprinsip bahwa satu kali di dalam seumur hidup, saya harus mencoba berpergian dengan kelas bisnis Garuda Indonesia yang di dalam beberapa tahun belakangan ini melakukan pembenahan mati-matian terhadap pelayanannya sampai mendapatkan predikat maskapai bintang lima dan awak kabin terbaik dunia versi Skytrax. 

Belajar Lebih Banyak 
Pengalaman yang saya rasakan memang lumayan mahal dan kita harus merogoh kocek dua kali lipat dari harga tiket biasa untuk penerbangan Jakarta ke Bali menggunakan pesawat Garuda Indonesia terbaru tipe 777 dan A330. Karena di sini saya membeli pengalaman dan sensasi naik kelas bisnis maka saya legowo-legowo saja. Penerbangan 1 jam 25 menit pun menjadi lebih bermakna dan justru membuat saya banyak belajar tentang client service.

Saya tersenyum ketika pramugari memanggil saya bukan hanya sekadar dengan sebutan "Bapak" atau "Mas" melainkan "Bapak Aga" atau "Mas Aga", mereka memanggil nama dan ini dimulai ketika saya duduk di dalam pesawat. Saya yang sehari-hari bekerja di industri jasa yang mana kepuasan pelanggan adalah nomor satu mendadak berpikir sendiri tentang pentingnya pendekatan semacam ini. 

Berapa banyak sih dari kita yang memanggil orang lain hanya dengan sebutan umum seperti "Mas", "Bapak", "Ibu" atau "Mbak" tanpa ada keinginan untuk mengakrabkan diri dengan memanggil nama, menunjukkan bahwa kita ingin mendekatkan diri kepada orang tersebut atau klien yang kita temui setiap hari. Mencoba menjadi lebih ramah dan mencoba menjalin komunikasi yang lebih ramah kepada rekan sekerja atau klien, misalnya. Keramahtamahan seperti ini yang rasanya mulai hilang di dalam kehidupan sehari-hari dan saya lupa bahwa saya bekerja di bidang usaha jasa untuk membuat orang lain bahagia serta senang dengan apa yang kita lakukan.
 

Dengan Senang Hati
Berapa banyak dari kita yang membalas ucapan "Terima kasih ya!" dengan sahutan, "Dengan senang hati?" Beberapa dari kita mungkin hanya membalasnya dengan sahutan, "Sama-sama!" atau bahkan tidak dibalas sama sekali karena ada perasaan kesal di sana. Penggunaan kalimat "Dengan senang hati!" bagi saya adalah suatu hal yang mengesankan. 

Senang hati, frasa ini mengandung arti yang dalam karena dengan mengucapkan frasa ini maka saya pun harus memastikan bahwa pertolongan yang saya berikan kepada orang yang bersangkutan haruslah dilakukan tanpa beban dan justru lebih dari itu, saya dengan senang hati melakukannya. Berapa banyak sih dari kita yang cenderung memikirkan rasa senang hati diri orang lain dibandingkan diri sendiri?

Pengalaman terbang dengan Garuda Indonesia ini bagi saya justru lebih dari sekadar terbang dengan kelas bisnis tetapi ada pekerjaan rumah yang harus saya lakukan dengan pekerjaan saya sehari-hari, membuat diri saya lebih senang hati ketika diminta tolong oleh orang lain di dalam dunia nyata.

Selamat hari Rabu! 

Sunday, September 11, 2016

09: Mau Lo Apa?


"Ga, gue bagi dong itinerary punya lo! Kayaknya lo ke tempat yang seru-seru gitu!"

Pertanyaan yang diajukan kepada saya itu tidak hanya sekali tetapi beberapa kali dan diminta juga menyebutkan harga perjalanan dan segala rupa-rupa informasi berhubungan dengan perjalanan saya. 

Sebagai seorang flashpacker, sejujurnya saya payah sekali untuk urusan budget alias saya tidak merencanakan budget saya dengan jelas kecuali menempatkan ambang batas untuk urusan tiket pesawat dan hotel. Namun, untuk urusan makan dimana, ngopi dimana, nongkrong dimana dan melihat apa saja, ambang batas saya untuk keuangan itu lumayan jauh jaraknya. 

Bagi saya, suatu perjalanan itu sifatnya personal dan saya tidak bisa serta-merta melakukan cut and paste rencana perjalanan orang lain, itu sama saja saya meminjam hidup orang lain kemudian menghidupinya. Namun, merupakan hal-hal yang sah apabila kita mencoba untuk membandingkan atau menanyakan referensi tempat-tempat menarik apa saja yang dikunjungi ketika berjalan-jalan. 

Sebelum menentukan destinasi, memesan tiket pesawat atau kamar hotel, saya rasa ada beberapa prinsip yang patut ditanyakan ketika kita memulai suatu perjalanan dan membuat suatu rencana perjalanan. 

#1 MAU LO APA?
Traveling is about finding yourself. Kita sering sekali mendengarkan atau membaca kalimat ini dan apalagi semenjak jalan-jalan ada suatu tren dan usaha bisnis baru. Gaung "Ayo jalan-jalan!" sudah menjadi bagian dari keseharian kita dan mencari tiket murah bukan lagi suatu keahlian yang dimiliki oleh beberapa orang tetapi hampir semua orang bisa memasukkannya ke dalam curriculum vitae untuk melamar pekerjaan.

Bagi saya, menyusun rencana perjalanan haruslah dimulai dengan pertanyaan dasar ini, "mau lo apa?" dan tentu saja, pertanyaan ini juga berlaku di dalam hidup yang dipenuhi oleh banyak pilihan dan tak sekadar pilihan berganda semacam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Pertanyaan dasar ini harus ditanyakan ketika kita menentukan destinasi yang akan kita tuju.

Salah satu contohnya adalah ketika saya memutuskan untuk ke Iran, tujuan saya di sana hanya satu: saya mau mengenal negara yang bertahun-tahun dimusuhi Amerika Serikat dan diblokade ekonominya. Ada visi yang harus ditempatkan ketika kita berjalan-jalan sehingga perjalanan yang tidak murah itu menjadi lebih bermakna. Contoh lain adalah ketika jalan-jalan ke Jepang, tujuannya adalah untuk merasakan coffee culture yang mulai naik daun di Tokyo dan otomatis, kita membuat setiap rencana perjalanan kita tertuju pada jawaban dari pertanyaan, "mau lo apa?"

Pertanyaan ini cukup membantu ketika saat menentukan tempat-tempat apa yang dituju kita tidak larut berlama-lama dalam kebingungan. Mau ini dan mau itu serta melupakan esensi dari kenapa kita jalan-jalan adalah hal yang bagi saya sangat disayangkan. Mengetahui apa yang menjadi tujuan utama kita ketika jalan-jalan adalah langkah awal sebelum menyusun strategi agar visi tersebut tercapai.

#2 GUE NGGAK SUKA INI
Ada orang yang bisa melakukan kompensasi terhadap tempat penginapan tetapi tidak terhadap maskapai penerbangan yang harus full service airline dan bukan low budget. Beberapa orang tidak suka makan pagi tetapi mereka lebih memilih untuk makan siang. Ada orang yang suka jalan-jalan ke museum dan lebih memilih untuk menghindari pusat perbelanjaan. Mengenal preferensi kita sendiri.

Mengenali apa yang kita tidak suka adalah langkah kedua. Kenapa ini menjadi hal yang penting? Kita bisa menurunkan ekspektasi terhadap destinasi serta memahami risiko ketika kita akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut. Sederhananya: tidak misuh-misuh dan mengeluh.

Langkah ini juga penting kita kita berjalan-jalan di satu kelompok atau punya pasangan yang juga hobi jalan-jalan. Mengetahui apa yang rekan seperjalanan kita tidak suka adalah tindakan preventif pertama untuk meminimalisir drama.

Mengenali diri sendiri juga membuat kita pun tidak menjadi ambisius ketika menentukan destinasi. Kalau memang kaki sudah jompo dan tidak diajak berkompromi untuk jalan-jalan ke 5 tempat sekaligus di dalam satu hari, tidak usah dipaksakan atau kalau pun dipaksakan, jangan mengeluh.

Kita pun bisa belajar untuk siap dengan segala situasi dan kondisi. Saya adalah orang yang harus mandi sehari minimal dua kali, pun demikian ketika saya jalan-jalan ke negara yang sedang musim dingin, yang mana sebenarnya tidak usah mandi juga tidak apa-apa. Saat saya mengetahui bahwa pergi ke Erta Ale di Ethiopia membutuhkan perjalanan darat yang minim kamar mandi dan ada kemungkinan saya tidak akan mandi, apakah saya membatalkan niat saya untuk ke sana? Tidak. Saya justru bisa mempersiapkan diri saya untuk menghadapi kemungkinan tidak akan mandi selama dua hari dan meminimalisir misuh-misuh di perjalanan.

Intinya sih, you know what do you sign up for.

#3 GOOGLE EVERYTHING! 
Saya sesungguhnya suka jengah dengan orang-orang yang lumayan malas untuk melakukan riset sendiri dan kemudian langsung melempar pertanyaan yang entah sifatnya general, penuh dengan ketakutan atau clueless ke forum-forum traveler. Bukan berarti hal tersebut adalah tindakan yang penuh dosa, tetapi di era sekarang ini, segala sesuatu bisa di-Google dengan sedemikian canggihnya. Mulai dari urusan bagaimana mengajukan visa, tempat-tempat mana yang menarik, restoran halal mana yang ada, endebra dan endebre.

Saya menghabiskan cukup lama untuk membaca referensi dan tidak hanya menyusuri website berbahasa Inggris saja tetapi juga website milik orang lokal dan menggunakan google translate untuk bisa mengetahui pendapat lokal tentang suatu tempat wisata atau tempat makan. Perlu waktu untuk menguasai keahlian untuk riset ini dan saya percaya bahwa semua orang bisa belajar keahlian ini.

Saya percaya dan yakin setiap orang itu berbeda dan unik, pun demikian untuk urusan jalan-jalan. Setiap orang punya perasaan yang berbeda ketika berjalan-jalan di suatu tempat dan belum tentu apa yang kita alami itu mendapatkan kesan tersendiri di dalam kacamata orang lain.

Satu hal yang pasti: Travel does change things. The person that leaves is rarely the same as the one that returns. 

Selamat mempersiapkan perjalanan! 

Saturday, September 10, 2016

09: Restitutio ad integrum


Restitutio ad integrum /rɛstɪˈtjuːtɪəʊ ad ɪnˈtɛɡrəm/, restoration of an injured party to the situation which would have prevailed had no injury been sustained; restoration to the original or pre-contractual position.

Saya suka sekali mencoba mengaplikasikan suatu prinsip hukum ke dalam kehidupan sehari-hari yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan hukum. Di minggu ini, saya teringat prinsip hukum tentang mengembalikan kepada keadaan semula atau melakukan restorasi seolah keadaan yang sudah rusak itu kembali kepada kondisi awal. Ada sebuah peristiwa di dalam hidup saya yang membuat saya berpikir untuk mengembalikan kepada kondisi semula. 

Ada masanya di dalam rentang kehidupan yang kita alami, kita disakiti oleh sebuah peristiwa, entah itu urusan patah hati, kekecewaan, mengalami akar pahit karena persahabatan yang retak atau pertengkaran. Kita pasti pernah mengalami masa-masa itu yang pada akhirnya akan kita lalui juga karena waktu tak akan pernah berhenti meskipun peristiwa buruk terjadi. 

Permasalahnnya, sesudah peristiwa yang tidak diinginkan itu terjadi, apa yang terjadi berikutnya? Apakah keadaan kembali kepada keadaan semula? Seringkali tidak dan kita pun membiarkannya begitu saja tanpa pernah ingin memperbaiki. Vas yang sudah retak, dibiarkan begitu saja. 

Apa yang saya pikirkan sebenarnya lebih ke arah bagaimana mengembalikan perasaan kecewa itu dengan cepat, secepat kilat atau kalau perlu sekali jentikan jari maka perasaan itu akan lalu begitu saja. Misalnya, kegalauan karena orang yang kita sukai ternyata masih mencintai orang lain atau perasaan sakit hati karena cinta kita tak terbalas. Mengembalikan diri kepada keadaan semula, seolah tidak terjadi apa-apa adalah sesuatu yang sulit atau bahkan bukan menjadi pilihan ketika kita menghadapi segala kepahitan tersebut. 

Letting Go
Kita semua pernah terluka dan memang butuh proses untuk membuat keadaan kembali ke sedia kala. Apa yang saya alami di dalam minggu ini sepertinya ada hubunganya dengan the art of letting go, sama seperti apa yang saya teman saya katakan bahwa segala sesuatu di dunia ini fana sifatnya, menyimpan suatu perasaan negatif berlama-lama, tidak ada gunanya. 

Belajar untuk melepaskan rasa sakit hati adalah cara yang terbaik di dalam perspektif saya agar keadaan kembali menjadi sedia kala. Memahami bahwa memang cinta itu sedang tidak berpihak pada kita, mengampuni orang yang melakukan tindakan jahat kepada kita atau hanya sekadar belajar untuk merelakan hal buruk terjadi, adalah hal yang sulit untuk dinyatakan tetapi bukan berarti tidak bisa. 

Saya baru ingat kalau di bulan Maret tahun ini, saya pun belajar hal yang sama, tentang makna melepaskan. Saya pun teringat dengan judul blog di tahun ini: lost and found, we lost something but we also found something in life. 

Mengembalikan kepada keadaan semula dengan cara melepaskan bukan dengan cara memendam amarah atau menyimpan dendam, ini yang lagi-lagi harus saya pelajari lebih lanjut.

Selamat berdamai dengan diri sendiri! Selamat long weekend

Wednesday, September 07, 2016

09: Setiap Orang Punya Kisah Cintanya Masing-Masing


"Iya sih, setiap orang mempunyai kisah cintanya masing-masing."

Saya tertegun dengan celetukan yang saya buat sendiri tadi malam di depan seseorang ketika makan bakmi di kawasan Mangga Besar. Saya tahu bahwa kalimat tersebut sebenarnya ditujukan kepada saya sendiri dan kemudian menjadi pertanyaan reflektif selama satu malam suntuk. Jadi, kisah cintamu itu sebenarnya seperti apa?

Banyak orang yang ingin merasakan yang namanya jatuh cinta serta terbuai oleh kisah-kisah cinta yang romantis dan dramatis. Ketika kita mengadakan suatu survei misalnya, pasti akan lebih banyak orang yang memilih untuk mewarnai kisah cintanya dengan hal-hal yang sifatnya romantis ketimbang  hal-hal yang sifatnya sedih. Padahal, apakah peristiwa penuh kesedihan tersebut bukankah kisah cinta? Jawabannya sih, peristiwa sedih tersebut adalah kisah cinta juga.

Berapa banyak sih dari kita yang masih berharap diam-diam akan seseorang? Terlalu baper alias bawa perasaan ketika tahu bahwa orang yang kita suka ternyata menyukai orang lain atau masih punya hubungan dengan orang lain? Saya menduga banyak yang merasakan hal tersebut. 

Saya pun secara jujur mengakui bahwa masih sering membuka akun Instagram seorang crush saya dan ketika berpapasan di pusat perbelanjaan pada saat makan siang di dekat kantor saya, ego saya seolah mengatakan bahwa saya jauh lebih oke dibandingkan saya yang dulu dan seruan maha angkuh pun ada di dalam hati saya, "Nyesel kan lo dulu 'ninggalin gue?", padahal sih, kalau dia sekarang mengejar saya, saya pasti akan luluh juga. 

Cinta itu adiktif dan seolah candu dan terbuai di dalam kisah cinta adalah sesuatu yang kita rindukan sekaligus kita benci, ketika berhadapan pada peristiwa-peristiwa yang tak sesuai dengan harapan apalagi kenyataan. 

Hidup sih seringkali memang tidak adil. Ada orang yang kisah cintanya manis seperti kisah Cinderella, they live happily ever after. Namun, ada juga yang kisah cintanya bagaikan Maleficient yang justru kehilangan atau dikhianati oleh orang yang dia cintai.

Bahkan mungkin, ketika kita menjalin kisah cinta yang satu, kita juga masih terjebak di dalam kisah cinta yang masih ada. Kita membuat kisah cinta di dalam kisah cintai. Rumit? Lumayan.

Kisah cinta kita mungkin tidak hanya satu, tetapi puluhan atau bahkan, ratusan. Karena sebenarnya mencintai itu adalah proses dan bukan hanya semata-mata urusan hasil. Urusan dia suka atau tidak, itu urusan berbeda yang penting: kita pernah belajar untuk mencintai dan merangkai kisah cinta sendiri. Terkadang, belajar itu jauh lebih menarik dibandingkan dari mendapatkan. Ada suatu kecenderungan "take it for granted" ketika sudah mendapatkan dan pada akhirnya, ketika yang didapatkan tersebut sudah lepas maka back to square-one dan ditambah raungan penyesalan.

Dengan belajar mencintai, saya pun jadi tahu, saya adalah orang yang seperti apa dan belajar untuk memahami preferensi saya akan sebuah kisah cinta, termasuk di dalamnya, bagaimana saya mengatasi patah hati atau bertepuk sebelah tangan. Ini adalah kisah cinta yang juga bertarung dengan ego karena ego manusia pada dasarnya adalah berkisar tentang keinginan untuk memiliki dan tentu saja, prinsip ke-AKU-an.

Saya tidak tahu tulisan saya hari ini cukup terstruktur dengan baik atau tidak, tetapi karena lagi banyak pikiran, ya nulis aja deh! 

Selamat menjelang makan siang! Selamat menyambut long weekend! Selamat merajut kisah cintamu masing-masing!